Karya fan fiction ini adalah lanjutan dari JKT48 Novel part-part sebelumnya, yaitu part 1, part 2, part 3, part 4, part 5, part 6, part 7, dan part 8. JKT48 Novel diterbitkan di JKT48 Fanblog atas kerjasama dengan fanpage JKT48 NOVEL yang dikelola oleh teman kita Chikafusa Chikanatsu.
Follow juga @JKT48fanfiction untuk membaca cerita seru lainnya!
Dua part terakhir season 1
''Siapa nama kamu?'' Tanya Sonya.
Wajahnya begitu segar dan simetris. Kecantikannya merupakan perpaduan antara tulang pipi yang tinggi, hidungnya mancung, matanya lebar seperti anak kecil yang tampak keheranan, bibirnya penuh dengan lekukan di tengah, terlebih jika ada seorang pria yang melihatnya, seperti ingin segera menerjangnya dengan nafsu, senyumannya sungguh indah, ada sedikit kempotan disebelah kanannya, ditambah dagu yang mungil serta sepasang telinga yang kecil. Rambut halus yang selebih bahu sengaja ia lepas, membuat para wanita iri jika melihatnya. Dipasangkannya sebuah bando berwarna Hijau di kepalanya, sungguh sempurna! Membuat semua pria ingin segera memilikinya.
''Namaku...Shiva Lestari.'' kata Shiva sambil menyodorkan tangannya pada Sonya. Mereka saling jabat tangan, kecuali Shania. Ia masih belum mau menerimanya. Tetapi sikap juteknya Shania tidak membuat hati Shiva terluka. Ia sudah terbiasa di perlakukan seperti itu sebelumnya. Shiva ingin sekali memberi kesan layaknya wanita ceria, polos dan penyabar didepan teman teman barunya dia. Sebelumya siang itu, Shiva menghabiskan semua hartanya hanya untuk mempercantik dirinya. Zaman sudah semakin modern, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama jika mereka yang ingin tampil 'Wah'. Shiva ingin sekali memulai hidup yang baru. Rasa keputusasaan berusaha ia buang sebisa mungkin. Dipandanginya wajah Shania, dan dilontarkannya senyuman manis tanpa henti. Langkah kakinya berjalan mendekati Shania. Mereka saling pandang memandang. Shiva melangkah lagi, kurang lebih 30cm jarak diantara mereka, jika Shiva melanjutkan langkahnya, mungkin mereka akan berbenturan. Shania mendelik keheranan. Sebenarnya apa mau dia?
Sonya serta Cleo yang berada disebelahnya pun wajahnya penuh tanya.
Tidak tanggung tanggung, Shiva melejit memeluk Shania. Ia mendekatkan bibirnya ke telingan Shania seraya berkata. ''Aku...Menyukaimu.'' Desisnya.
Shania tampak keheranan. Setelah sikapnya buruk terhadap Shiva, kenapa tingkahnya malah sebaliknya. Tidak ada rasa kebencian yang aku rasakan di hatinya. Kenapa wanita ini begitu aneh. Sungguh, ini kejadian yang pernah aku lihat dan bahkan aku rasakan sendiri. Hatinya bagaikan terbuat dari batu yang tidak bisa di pecahkan, setelah sikapku yang tidak mengenakkan padanya, kenapa ia malah memelukku seperti ini. Seharusnya ia kesal, marah atau mungkin jengkel. Itulah sikap yang lebih masuk akal, kata Shania dalam hati.
Shiva terus memeluk erat Shania sampai sampai Shania sulit bernafas. Shania bergidik, ia merasa tidak nyaman. Sesegera itu pula shania mendorong Shiva dengan kuat hingga Shiva terjatuh. Melihat itu, Cleo segera membangunkan Shiva.
''Shania! Kenapa kamu kasar sekali?'' bentak Cleo.
''Jangan dekat dekat denganku.'' kata Shania pada Shiva.
''Aku minta maaf. Aku harap kita bisa berteman dengan akrab.'' sahutnya.
***
Melalui kaca kamarnya yang setengah berdebu itu, Ayu terdiam melamun. Masih ada waktu kurang lebih dua puluh menit untuknya berangkat ke sekolah. Ayu mengamati anak anak remaja dibawah sana.
Mereka semua berangkat sekolah bersama sama. Bercanda, memberi pendapat satu sama lain, berceloteh bersama, bahkan terkadang tinggal besama. Aku ingin menjadi bagian dari mereka. Aku begitu kesepian. Adakah seseorang yang mampu membuatku tertawa?
Ayah, aku rindu kecupanmu di pagi hari. Aku rindu kehadiranmu disisi ku. Aku ingin bersenang senang lagi bersama Ayah, aku ingin diantarkan ke sekolah bersama Ayah, aku ingin makan diluar bersama Ayah, aku ingin pergi piknik bersama Ayah.
Sehari, sehari saja aku ingin itu semua. Aku ingin didikanmu jika aku berbuat salah, aku ingin teguranmu yang penuh perhatian padaku, aku sangat butuh bimbinganmu. Ayah, apa ayah bisa rasakan kehidupanku yang sekarang ini? Aku ingin Ayah menyarankan Ibu untuk selalu ada disisi ku, mengurusiku dan menemaniku saat aku menangis. Kenyataannya, Ibu hanya selalu memikirkan pekerjaannya. Jarang sekali ia melirikku sama sekali, Memberi nasehat atau teguran darinya agar aku merasa nyaman.
''Sayang, Ibu berangkat dulu. Jangan lupa sarapan dulu kalau mau berangkat sekolah. Ada nasi uduk di meja.'' seru Ibunya dari ruang tamu yang sudah berpakaian rapih.
Ayu tidak berbicara, ia hanya menggangguk tanpa menoleh. Waktu berangkat sekolah masih lama, Sedangkan ia hanya berdiam diri. Lama lama terasa bosan. Ayu pun mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, ia berniat mengirimkan pesan singkat pada Melody.
''Pagi, kakak. Lagi apa, kak? Apa kakak udah sarapan?''
Lima menit lamanya Ayu menunggu balasan, dan akhirnya Melody membalasnya.
''Ia nih lagi sarapan, udah gitu mau berangkat ke sekolah. Kamu sendiri bagaimana?''
Ayu kegirangan. Respon Melody sangat membuat Ayu senang.
''Aku belum sarapan, kak. Hati hati ya kak berangkat sekolahnya.hehe.''
''Waduh, kenapa belum sarapan? Nanti di kelas perut kamu bunyi bunyi lagi. Haha. Sarapan, ya. Biar belajarnya nyaman dan gampang di serap otak.''
Ayu senyam senyum, lagi lagi Melody merespon pesannya itu. Apalagi isi pesannya Melody mencemaskan dirinya. Tentu Ayu tambah gembira. Ayu ingin sekali cepat akrab dengan Melody, seperti layaknya dia dengan Dhike.
''Iya, makasih.'' balasnya.
Sesegera itu pula Ayu berjalan ke meja makan. Ia memakan sarapannya dengan lahap.
''Apa aku memberikan hadiah saja ya pada kak Melody? Mungkin kakak akan senang. Dan juga berfikir bahwa aku memikirkan dirinya.'' kata Ayu sambil mengunyah.
Umur muda seperti Ayu memang gampang sekali girang setelah mendapat pujian. Ditambah lagi rasa kesepiannya yang begitu besar, seseorang yang akan menemaninya tentu Ayu merasa terhibur, bahkan dari pesan lewat ponsel sekalipun.
Di sebuah taman yang tidak jauh dari tempat sekolah, Beby, cindy dan Delima sedang berkumpul bersama. Pelajaran baru saja berakhir, biasanya mereka bertiga selalu ngerumpi setelah pulang sekolah. Dalam benaknya Beby terus berfikir tentang audisi itu. Betapa senangnya, Beby akhirnya di izinkan oleh orang tuanya untuk ikut dalam audisi itu.
Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Tak bisa aku katakan, betapa senangnya aku.
Ya, memang begitu mengejutkan bagiku. Aku akan berusaha, Ibu. Ibu harus melihat dengan mata Ibu sendiri, bahwa aku yang akan meneruskan bakat Mu. Aku rasa, ini adalah awal untuk ku untuk bisa meraih mimpi. Meraih mimpi yang sebenarnya.
Aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan... ini juga merupakan awal yang begitu menyedihkan, dimana semua sahabat sahabat ku akan bersaing dan saling mendahului.
''Beb?'' panggil Cindy yang berada disebelahnya.
''Ya?''
''Kenapa diam aja?''
Beby memandang wajah Cindy serius. ''Cin, apa kita akan selalu menjadi sahabat selamanya? Bukan, maksud ku kita bertiga. Kita akan menjadi sahabat selamanya, kan? Aku sangat senang berteman dengan kalian. Walau kita sering bertengkar, saling mengejek atau mungkin saling iri. Tapi, aku tetap mengganggap kalian sahabat terbaikku. Aku gak pernah membenci kalian sedikit pun.''
''Kamu ini ngomong apa, sih? Aku masih gak ngerti. Kalau soal pertengkaran diantara sahabat itu kan bukan hal yang aneh. Semuanya pasti pernah merasakannya. Nanti juga ujung ujungnya baikan lagi. Itulah remaja!'' sahut Cindy.
Beby tertegun sebentar. Dalam keadaan seperti yang sekarang ini pasti tidak semudah itu alasan Cindy diterima. Tapi yang sekarang ini berbeda.
''Kamu gak mengerti juga dengan omongan ku, Cin?''
''Lalu, gimana caranya agar aku mengerti?''
''Seharusnya kamu bisa!''
''Mana bisa!''
''Mungkin saja. Kalau kamu memperdalam pikiranmu lagi tentang ucapanku tadi.''
''Caranya?''
Beby tampak emosional. ''Tentang audisi itu!''
''Memangnya kenapa? Oya, apa orang tua kamu udah ijinin kamu?'' tanya Delima.
Beby manggut manggut.
Wajah Delima menampakkan keingintahuan dan harapan yang amat sangat. ''Yang bener? Gimana caranya kamu membujuk orang tua kamu?''
Beby ingin menjelaskannya, namun ragu ragu. Ia menatap wajah Delima yang amat serius dan menanti omongannya itu. Begitu pula dengan Cindy, semuanya keheranan dan segera ingin tahu, membuat Beby terdesak.
Terpaksalah Beby menceritakan perihal orang tuanya. ''Dulu... orang tuaku pernah mengikuti kontes audisi juga sama kayak kita. Ibu serta teman temannya sangat bersaing kuat. Diantara Ibu dan ketiga orang temannya itu, ada dua orang yang gak lolos. Sejak saat itulah Ibu dan kedua temannya itu saling bermusuhan. Mereka kesal dan iri. Dulu Ibuku masih duduk dikelas tiga SMA. Pertengkaran semakin menjadi jadi saja diantara mereka. Ibu selalu dijauhkan oleh teman teman yang gak lolos dalam audisi itu. Mereka sirik! Kenapa manusia mempunyai hati yang begitu kotor. Ibuku gak salah apa apa, kenapa mereka menjauhinya. Ibu terus memikirkan itu setiap harinya. Ia rindu dengan sikap teman teman lamanya yang dulu. Yang begitu penuh perhatian, disaat susah teman selalu membantu, disaat senang teman akan selalu berbagi. Ibu rindu dengan semua itu.''
''Lalu?'' kata Delima semakin penasaran.
''Ibu keluar dari member grup musiknya itu. Ibu ingin kembali seperti dulu, bergurau bersama sama temannya, berceloteh, berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Ibu terpaksa melakukannya. Ikatan teman memang begitu kuat. Apapun profesi atau gelar seseorang, gak ada gunanya jika ia merasa kesepian. Jadi, apa kalian sudah mengerti maksud ku?''
Delima protes. ''Ending macam apa itu? Aku gak suka cerita akhirnya. Kenapa Ibu rela meninggalkan impiannya itu hanya demi seorang teman? Apa mencari teman baru itu susah?''
Beby menoleh ke arah Cindy. Ia ingin tahu seperti apa pendapat Cindy tentang cerita itu. Cindy tunduk terdiam. Sepertinya ia sedang menyimpulkannya dalam dalam. Dan akhirnya Cindy menegakkan kepalanya, wajahnya amat serius.
''Aku akan berjanji. Jika aku gak lolos dalam audisi itu, aku akan tetap menjadi sahabat kalian.''
Beby tersenyum senang mendengar perkataan Cindy. ''Aku juga. Gimana dengan kamu?'' tanyanya pada Delima.
''Iya aku juga. Sebagai teman yang baik Aku gak berhak melarang teman teman ku untuk meraih mimpinya, kan? Kita akan selalu menjadi sahabat.''
Mereka bertiga tersenyum gembira. Untung mereka semua bisa memahami situasinya.
Tidak lama suasana gembira berlangsung, ada seorang wanita yang menghampiri mereka. Wajah wanita itu tampak kebingungan. Ia menengok ke kanan dan kiri. Seperti sedang tersesat. Dan akhirnya wanita itu menghampiri mereka bertiga.
''Sumi masen, Koko kara eki made dono kurai no kyori ga arimasuka?'' tanya wanita itu. Sepertinya ia keceplosan, ia sadar, bahwa ini Indonesia bukan Jepang. Tentu Cindy, Beby serta Delima tampak keheranan mendengarnya.
Di ulangkannya lagi pertanyaan si wanita itu. ''How far is it from here to station?''
''o0ooh...'' sorak mereka bertiga bersamaan sambil manggut manggut.
''Bilang dong dari tadi. Kira kira satu kilometer. Kamu ikuti jalan ini, lalu kamu belok kanan dan nanti kamu akan melihat bangunan besar, nah itulah stasiunya.'' sahut Delima.
Wanita itu malah bertambah bingung. Matanya terbuka lebar tampak keheranan. ''In english, please. I come from Japan.''
''O0oh... Ngomong dong dari tadi.'' lagi lagi mereka bersorak bersamaan.
''You from Japan? Sugoi! Sugoi!'' jahil Delima.
''Yes, sugoi is dahsyat in bahasa.'' sahut wanita itu.
Delima kagum. ''You can speak bahasa too? Cool!''
''heh Delima! Dia nanya jalan tuh, kamu malah main mainin dia.'' kata Beby.
''Hehe, kapan lagi bisa bercakap dengan orang luar. Sekarang giliran kamu sana yang jelasin sama dia.''
Beby berkata. ''Certainly, you follow this way and then you turn to the right and you will see a big building. That is the station.''
''Oh, thank you very much. Arigato gozaimasu. Anata wa totemo shinsetsu desu.''
''You are welcome. Do-itashimashie.'' sahut Beby.
''Mata ai masho.'' seru wanita itu sambil mendadahkan tangannya.
''Itte irashai!'' teriak Beby.
Delima yang ada disebelahnya merasa kagum dengan Beby. ''Hebat kamu, beb. Kamu bisa bahasa Jepang juga?''
''Hanya sedikit, kok.''
''Ah, aku juga bisa kalau cuma gitu doang.'' sinis Cindy.
''Kalau kamu bisa kenapa gak kamu jawab tadi?'' balas Beby.
''Aku lagi malas aja.''
''Masa sih? Yang bener?''
''Iya. Orang aku lagi males ngomong, kok.''
''Ah, sudah jelas bahwa kamu masih dibawah aku.''
Cindy kesal. ''Kata siapa? Enak saja! Jadi kamu membanding bandingkan aku? Apa kamu mau perang bahasa denganku?''
''Ayo, siapa takut!''
Delima yang hanya menjadi penonton perdebatan itu merasa kesal. Lagi lagi mereka mulai bertengkar dengan kepintarannya itu.
''Hei sudah sudah! Baru aja tadi kita membicarakan tentang persahabatan, secepat itukah kalian melupakannya?''
''Itu beda lagi urusannya!'' teriak bareng cindy serta Beby pada Delima.
''Kenapa kalian selalu kompak sekali!'' balas Delima berteriak.
Waktu audisi hanya tinggal empat hari saja. Rasa gelisah terus menghantui Jeje. Dengan sedikit gemetar ia memberanikan dirinya untuk menemui kedua orang tuanya yang lagi bersantai di ruang tamu. Suasana yang tepat untuknya berbincang. Dipegangnya sebuah selembaran brosur di tangannya. Jeje menatapi Ayahnya itu. Hatinya sungguh tidak tenang, ia masih belum berani mengatakannya. Dengan sedikit paksaan, ia menyodorkan brosur yang di pegangnya itu pada Ayahnya. Segera itu pula Ayahnya membaca isi dari selembaran itu.
Lima menit lamanya Ayahnya itu merenungkannya. Sedangkan istrinya yang berada disebelahnya merasa penasaran dengan isi brosur itu. Kemudian dibacanya juga brosur itu. Jeje masih berdiri tegak menunggu jawaban dari orang tuanya. Dilihatnya wajah Ayahnya yang panas itu, buru buru Jeje membuang wajahnya.
''Apa alasannya? Jelaskan sama Ayah.''
Jeje tertegun sejenak. lalu Wajahnya menjadi sangat serius. Jeje berniat mengatakan semua yang ada di hatinya. Ia akan berusaha membuat Ayahnya paham tentang dirinya. Jeje menarik nafas, kemudian ia mulai berkata. ''Itu impianku! Sejak kecil aku sangat menyukai bidang ini. Ayah pernah mengatakan bahwa aku berbakat akan hal itu. Apa Ayah lupa?''
Ayahnya terdiam. Memang benar sejak saat itu Ayahnya pernah mengatakannya. Tapi bukan ini yang dirinya maksud. Mengikuti audisi itu hanya akan mengganggu jadwalnya, pikirnya.
''Ayah, apa aku boleh ikut?'' tanyanya sekali lagi.
''Kenapa kamu ingin sekali mengikutinya?'' balik Ayah bertanya menyelidik.
''Aku...aku ingin sekali melakukannya. Aku ingin menjadi dancer yang dikagumi banyak orang. Aku akan memperlihatkannya pada mereka. Ini merupakan impian yang ingin aku raih, Ayah. Bolehkah aku melakukannya? Kali ini saja.''
''Bagaimana kalau kamu gagal? Apakah kamu akan depresi? Mengurung dikamar? Gak mau makan? Apa itu yang nanti akan kamu lakukan?''
''Gak! Aku gak akan kayak gitu, Yah.'' Jeje memperjelas.
''Yasudah!'' seru Ayahnya itu tiba tiba.
Jeje tercengang, apa maksud perkataan Ayahnya itu? Apa dia mau mengabulkannya? ''Ya?''
''Temuilah Shania. Kamu Ayah izinkan.''
Jeje terperanjat senang. ''Makasih, Ayah.''
''Bersikap baiklah pada Shania. Dialah yang sudah membujuk Ayah untuk mu ikut serta dalam Audisi itu.''
''Ya, Pasti!''
Didalam hati yang paling dalam, Jeje sungguh tidak menyangka bahwa Shania telah membujuk Ayahnya itu. Ia begitu gembira berjalan kembali ke kamarnya, ia pun tidak lupa untuk segera mengucapkan terima kasih pada Shania lewat telepon.
''Tumben, sikap kamu berbeda.'' sindir Ibunya.
''Anak kita sudah dewasa, Bu. Sudah saatnya untuk kita memberinya kebebasan. Sejak kecil hingga sekarang dia tumbuh dengan baik. Apa salahnya kita membiarkan dia untuk meraih mimpinya dengan jalannya sendiri. Kita juga tentu harus mendukungnya.'' kata Ayah.
***
Disaat orang orang tertidur lelap pada malam hari, Ayu justru terbangun. Walau matanya itu sulit sekali dibuka lebar lebar karena ngantuk, Ayu tetap berusaha. Ia segera berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar rasa ngantuknya hilang. Setelah itu, Ia mengendap ngendap berjalan ke luar kamar apartemennya. Ia tidak ingin kalau Ibunya tahu kalau ia keluar. Ayu juga tidak lupa untuk membawa perlengkapan yang ia butuhkan ke didalam tasnya.
Disekitar lapangan basket tidak ada siapapun, sepi dan tenang. Ruangannya tidak terlalu terang, hanya beberapa lampu saja yang menyala. Kalaupun ada orang yang melihatnya, tidak akan terlihat jelas wajahnya. Ayu mengambil sepatu yang biasa ia pakai untuk berolah raga. Dikencangkannya tali sepatunya, takut takut jika kejadian sebelumnya terulang, dimana ia terjatuh karena menginjak tali yang terlepas itu. Diikatkannya rambutnya yang terurai itu, agar pandangannya tidak mengganggunya.
Ayu melepaskan jacket yang ia kenakan, tubuhnya hanya berlapiskan kaos tipis saja. Walau udara di malam hari sangat dingin, itu tidak membuat Ayu terganggu. Setelah semuanya siap, Ayu mengeluarkan PC tablet dari dalam tasnya. Biasa PC tablet itu ia gunakan untuk memutarkan Video. Diletakkannya tablet itu tepat dihadapannya yang hanya berjarak satu meter saja.
Setelah semuanya siap, Ayu segera menyetel Video yang ada di PC tersebut. Bagaimana dengan suara yang ditimbulkan dari PC tablet tersebut? Bukankah akan mengganggu jika sampai terdengar orang? Maka jawabanya TIDAK! Ayu sudah memikirkan itu sejak awal, ia memakai earphone bluetooth di telinganya.
Beban pikirannya semakin bertambah, sebab waktunya sudah tidak lama lagi. Dia harus memaksakan dirinya agar bisa memuaskan hasilnya.
''Aku harus melakukannya sebisa mungkin. Aku sudah gak tahan lagi hidup kesepian kayak gini. Aku ingin punya banyak teman, di puji dan dikagumi. Rencana ini gak boleh ketahuan oleh Ibu. Maafkan aku, Bu.''
Sesuatu dari dalam irama Video yang Ayu putar itu membuat Ayu bergoyang. Ia terus mengikuti gerakan gerakan dancer yang ada di Video tersebut. Ia mencobanya berulang ulang sampai gerakannya sama percis. Ada nafas kemudaan serta kelincahan yang terpancar dari diri Ayu.
Dari balik pagar yang terbuat dari kawat itu Sendy mengamati Ayu. Jaraknya cukup jauh, kira kira dua puluh meter. Tepat Sendy berdiri memang tidak ada cahaya yang menerangi, membuat Keberadaan Sendy tidak diketahui. Tepat di tangan kanannya ia menggenggam sebuah smart phone dengan berbagai software yang cukup canggih. Software itu membantu sangat Sendy untuk bisa melacak seseorang. Tentu di jaman modern ini teknologi sudah semakin menggila saja. Dilayar kaca smart phone ada sebuah lampu yang berkedap kedip dan berbunyi 'bib bib bib' yang menandakan keberadaan Ayu yang telah berubah. Cara kerja software itu cukup mudah, hanya tinggal mencantumkan nomer ponsel si terkait saja, dengan begitu akan terlacak melalui jaringan GSM. Sebelumya, Sendy mendapatkan nomer Ayu dari salah seorang teman satu kelasnya.
Sudah empat hari Ayu melakukan latihan di malam hari secara diam diam, tentu ekspresi Sendy tidak terlalu menunjukkan wajah yang penuh tanya. Sendy sudah tahu maksud dari Ayu tersebut.
''Hebat! Begitu kesepiannya kah dia sampai sampai rela berbuat sejauh itu?
Membuat tidurku terganggu saja. Aku kira ada apa, tau tau hanya ini saja yang dia lakukan.'' kata Sendy dengan wajah yang sedikit kecewanya itu.
Tiba tiba saja terdengar suara benturan yang cukup kuat. Tepat didepan mata kepala Sendy, Ayu terjatuh. Ia terpeleset dan menyebabkan tangan serta dengkulnya lecet. Sendy mendengar suara tangisan Ayu yang tersedu sedu, entah karena Ayu menangis karena kesakitan atau mungkin karena ia kesal kenapa disaat seperti ini ia sampai terluka dan akhirnya memperhambat latihannya saja. Didalam hati Sendy memang ia merasa tidak tega dan ingin menolongnya, tapi jika sampai itu terjadi, maka Ayu akan merasa curiga padanya. Terpaksa, Sendy hanya bisa terus mengawasinya dari kejauhan.
BERSAMBUNG...
Tampilkan postingan dengan label JKT48 Novel Fan Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JKT48 Novel Fan Fiction. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Mei 2012
JKT48 Novel Fan Fiction Part 9 (Season 1)
Karya fan fiction ini adalah lanjutan dari JKT48 Novel part-part sebelumnya, yaitu part 1, part 2, part 3, part 4, part 5, part 6, part 7, dan part 8. JKT48 Novel diterbitkan di JKT48 Fanblog atas kerjasama dengan fanpage JKT48 NOVEL yang dikelola oleh teman kita Chikafusa Chikanatsu.
Follow juga @JKT48fanfiction untuk membaca cerita seru lainnya!
Dua part terakhir season 1
''Siapa nama kamu?'' Tanya Sonya.
Wajahnya begitu segar dan simetris. Kecantikannya merupakan perpaduan antara tulang pipi yang tinggi, hidungnya mancung, matanya lebar seperti anak kecil yang tampak keheranan, bibirnya penuh dengan lekukan di tengah, terlebih jika ada seorang pria yang melihatnya, seperti ingin segera menerjangnya dengan nafsu, senyumannya sungguh indah, ada sedikit kempotan disebelah kanannya, ditambah dagu yang mungil serta sepasang telinga yang kecil. Rambut halus yang selebih bahu sengaja ia lepas, membuat para wanita iri jika melihatnya. Dipasangkannya sebuah bando berwarna Hijau di kepalanya, sungguh sempurna! Membuat semua pria ingin segera memilikinya.
''Namaku...Shiva Lestari.'' kata Shiva sambil menyodorkan tangannya pada Sonya. Mereka saling jabat tangan, kecuali Shania. Ia masih belum mau menerimanya. Tetapi sikap juteknya Shania tidak membuat hati Shiva terluka. Ia sudah terbiasa di perlakukan seperti itu sebelumnya. Shiva ingin sekali memberi kesan layaknya wanita ceria, polos dan penyabar didepan teman teman barunya dia. Sebelumya siang itu, Shiva menghabiskan semua hartanya hanya untuk mempercantik dirinya. Zaman sudah semakin modern, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama jika mereka yang ingin tampil 'Wah'. Shiva ingin sekali memulai hidup yang baru. Rasa keputusasaan berusaha ia buang sebisa mungkin. Dipandanginya wajah Shania, dan dilontarkannya senyuman manis tanpa henti. Langkah kakinya berjalan mendekati Shania. Mereka saling pandang memandang. Shiva melangkah lagi, kurang lebih 30cm jarak diantara mereka, jika Shiva melanjutkan langkahnya, mungkin mereka akan berbenturan. Shania mendelik keheranan. Sebenarnya apa mau dia?
Sonya serta Cleo yang berada disebelahnya pun wajahnya penuh tanya.
Tidak tanggung tanggung, Shiva melejit memeluk Shania. Ia mendekatkan bibirnya ke telingan Shania seraya berkata. ''Aku...Menyukaimu.'' Desisnya.
Shania tampak keheranan. Setelah sikapnya buruk terhadap Shiva, kenapa tingkahnya malah sebaliknya. Tidak ada rasa kebencian yang aku rasakan di hatinya. Kenapa wanita ini begitu aneh. Sungguh, ini kejadian yang pernah aku lihat dan bahkan aku rasakan sendiri. Hatinya bagaikan terbuat dari batu yang tidak bisa di pecahkan, setelah sikapku yang tidak mengenakkan padanya, kenapa ia malah memelukku seperti ini. Seharusnya ia kesal, marah atau mungkin jengkel. Itulah sikap yang lebih masuk akal, kata Shania dalam hati.
Shiva terus memeluk erat Shania sampai sampai Shania sulit bernafas. Shania bergidik, ia merasa tidak nyaman. Sesegera itu pula shania mendorong Shiva dengan kuat hingga Shiva terjatuh. Melihat itu, Cleo segera membangunkan Shiva.
''Shania! Kenapa kamu kasar sekali?'' bentak Cleo.
''Jangan dekat dekat denganku.'' kata Shania pada Shiva.
''Aku minta maaf. Aku harap kita bisa berteman dengan akrab.'' sahutnya.
***
Melalui kaca kamarnya yang setengah berdebu itu, Ayu terdiam melamun. Masih ada waktu kurang lebih dua puluh menit untuknya berangkat ke sekolah. Ayu mengamati anak anak remaja dibawah sana.
Mereka semua berangkat sekolah bersama sama. Bercanda, memberi pendapat satu sama lain, berceloteh bersama, bahkan terkadang tinggal besama. Aku ingin menjadi bagian dari mereka. Aku begitu kesepian. Adakah seseorang yang mampu membuatku tertawa?
Ayah, aku rindu kecupanmu di pagi hari. Aku rindu kehadiranmu disisi ku. Aku ingin bersenang senang lagi bersama Ayah, aku ingin diantarkan ke sekolah bersama Ayah, aku ingin makan diluar bersama Ayah, aku ingin pergi piknik bersama Ayah.
Sehari, sehari saja aku ingin itu semua. Aku ingin didikanmu jika aku berbuat salah, aku ingin teguranmu yang penuh perhatian padaku, aku sangat butuh bimbinganmu. Ayah, apa ayah bisa rasakan kehidupanku yang sekarang ini? Aku ingin Ayah menyarankan Ibu untuk selalu ada disisi ku, mengurusiku dan menemaniku saat aku menangis. Kenyataannya, Ibu hanya selalu memikirkan pekerjaannya. Jarang sekali ia melirikku sama sekali, Memberi nasehat atau teguran darinya agar aku merasa nyaman.
''Sayang, Ibu berangkat dulu. Jangan lupa sarapan dulu kalau mau berangkat sekolah. Ada nasi uduk di meja.'' seru Ibunya dari ruang tamu yang sudah berpakaian rapih.
Ayu tidak berbicara, ia hanya menggangguk tanpa menoleh. Waktu berangkat sekolah masih lama, Sedangkan ia hanya berdiam diri. Lama lama terasa bosan. Ayu pun mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, ia berniat mengirimkan pesan singkat pada Melody.
''Pagi, kakak. Lagi apa, kak? Apa kakak udah sarapan?''
Lima menit lamanya Ayu menunggu balasan, dan akhirnya Melody membalasnya.
''Ia nih lagi sarapan, udah gitu mau berangkat ke sekolah. Kamu sendiri bagaimana?''
Ayu kegirangan. Respon Melody sangat membuat Ayu senang.
''Aku belum sarapan, kak. Hati hati ya kak berangkat sekolahnya.hehe.''
''Waduh, kenapa belum sarapan? Nanti di kelas perut kamu bunyi bunyi lagi. Haha. Sarapan, ya. Biar belajarnya nyaman dan gampang di serap otak.''
Ayu senyam senyum, lagi lagi Melody merespon pesannya itu. Apalagi isi pesannya Melody mencemaskan dirinya. Tentu Ayu tambah gembira. Ayu ingin sekali cepat akrab dengan Melody, seperti layaknya dia dengan Dhike.
''Iya, makasih.'' balasnya.
Sesegera itu pula Ayu berjalan ke meja makan. Ia memakan sarapannya dengan lahap.
''Apa aku memberikan hadiah saja ya pada kak Melody? Mungkin kakak akan senang. Dan juga berfikir bahwa aku memikirkan dirinya.'' kata Ayu sambil mengunyah.
Umur muda seperti Ayu memang gampang sekali girang setelah mendapat pujian. Ditambah lagi rasa kesepiannya yang begitu besar, seseorang yang akan menemaninya tentu Ayu merasa terhibur, bahkan dari pesan lewat ponsel sekalipun.
Di sebuah taman yang tidak jauh dari tempat sekolah, Beby, cindy dan Delima sedang berkumpul bersama. Pelajaran baru saja berakhir, biasanya mereka bertiga selalu ngerumpi setelah pulang sekolah. Dalam benaknya Beby terus berfikir tentang audisi itu. Betapa senangnya, Beby akhirnya di izinkan oleh orang tuanya untuk ikut dalam audisi itu.
Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Tak bisa aku katakan, betapa senangnya aku.
Ya, memang begitu mengejutkan bagiku. Aku akan berusaha, Ibu. Ibu harus melihat dengan mata Ibu sendiri, bahwa aku yang akan meneruskan bakat Mu. Aku rasa, ini adalah awal untuk ku untuk bisa meraih mimpi. Meraih mimpi yang sebenarnya.
Aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan... ini juga merupakan awal yang begitu menyedihkan, dimana semua sahabat sahabat ku akan bersaing dan saling mendahului.
''Beb?'' panggil Cindy yang berada disebelahnya.
''Ya?''
''Kenapa diam aja?''
Beby memandang wajah Cindy serius. ''Cin, apa kita akan selalu menjadi sahabat selamanya? Bukan, maksud ku kita bertiga. Kita akan menjadi sahabat selamanya, kan? Aku sangat senang berteman dengan kalian. Walau kita sering bertengkar, saling mengejek atau mungkin saling iri. Tapi, aku tetap mengganggap kalian sahabat terbaikku. Aku gak pernah membenci kalian sedikit pun.''
''Kamu ini ngomong apa, sih? Aku masih gak ngerti. Kalau soal pertengkaran diantara sahabat itu kan bukan hal yang aneh. Semuanya pasti pernah merasakannya. Nanti juga ujung ujungnya baikan lagi. Itulah remaja!'' sahut Cindy.
Beby tertegun sebentar. Dalam keadaan seperti yang sekarang ini pasti tidak semudah itu alasan Cindy diterima. Tapi yang sekarang ini berbeda.
''Kamu gak mengerti juga dengan omongan ku, Cin?''
''Lalu, gimana caranya agar aku mengerti?''
''Seharusnya kamu bisa!''
''Mana bisa!''
''Mungkin saja. Kalau kamu memperdalam pikiranmu lagi tentang ucapanku tadi.''
''Caranya?''
Beby tampak emosional. ''Tentang audisi itu!''
''Memangnya kenapa? Oya, apa orang tua kamu udah ijinin kamu?'' tanya Delima.
Beby manggut manggut.
Wajah Delima menampakkan keingintahuan dan harapan yang amat sangat. ''Yang bener? Gimana caranya kamu membujuk orang tua kamu?''
Beby ingin menjelaskannya, namun ragu ragu. Ia menatap wajah Delima yang amat serius dan menanti omongannya itu. Begitu pula dengan Cindy, semuanya keheranan dan segera ingin tahu, membuat Beby terdesak.
Terpaksalah Beby menceritakan perihal orang tuanya. ''Dulu... orang tuaku pernah mengikuti kontes audisi juga sama kayak kita. Ibu serta teman temannya sangat bersaing kuat. Diantara Ibu dan ketiga orang temannya itu, ada dua orang yang gak lolos. Sejak saat itulah Ibu dan kedua temannya itu saling bermusuhan. Mereka kesal dan iri. Dulu Ibuku masih duduk dikelas tiga SMA. Pertengkaran semakin menjadi jadi saja diantara mereka. Ibu selalu dijauhkan oleh teman teman yang gak lolos dalam audisi itu. Mereka sirik! Kenapa manusia mempunyai hati yang begitu kotor. Ibuku gak salah apa apa, kenapa mereka menjauhinya. Ibu terus memikirkan itu setiap harinya. Ia rindu dengan sikap teman teman lamanya yang dulu. Yang begitu penuh perhatian, disaat susah teman selalu membantu, disaat senang teman akan selalu berbagi. Ibu rindu dengan semua itu.''
''Lalu?'' kata Delima semakin penasaran.
''Ibu keluar dari member grup musiknya itu. Ibu ingin kembali seperti dulu, bergurau bersama sama temannya, berceloteh, berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Ibu terpaksa melakukannya. Ikatan teman memang begitu kuat. Apapun profesi atau gelar seseorang, gak ada gunanya jika ia merasa kesepian. Jadi, apa kalian sudah mengerti maksud ku?''
Delima protes. ''Ending macam apa itu? Aku gak suka cerita akhirnya. Kenapa Ibu rela meninggalkan impiannya itu hanya demi seorang teman? Apa mencari teman baru itu susah?''
Beby menoleh ke arah Cindy. Ia ingin tahu seperti apa pendapat Cindy tentang cerita itu. Cindy tunduk terdiam. Sepertinya ia sedang menyimpulkannya dalam dalam. Dan akhirnya Cindy menegakkan kepalanya, wajahnya amat serius.
''Aku akan berjanji. Jika aku gak lolos dalam audisi itu, aku akan tetap menjadi sahabat kalian.''
Beby tersenyum senang mendengar perkataan Cindy. ''Aku juga. Gimana dengan kamu?'' tanyanya pada Delima.
''Iya aku juga. Sebagai teman yang baik Aku gak berhak melarang teman teman ku untuk meraih mimpinya, kan? Kita akan selalu menjadi sahabat.''
Mereka bertiga tersenyum gembira. Untung mereka semua bisa memahami situasinya.
Tidak lama suasana gembira berlangsung, ada seorang wanita yang menghampiri mereka. Wajah wanita itu tampak kebingungan. Ia menengok ke kanan dan kiri. Seperti sedang tersesat. Dan akhirnya wanita itu menghampiri mereka bertiga.
''Sumi masen, Koko kara eki made dono kurai no kyori ga arimasuka?'' tanya wanita itu. Sepertinya ia keceplosan, ia sadar, bahwa ini Indonesia bukan Jepang. Tentu Cindy, Beby serta Delima tampak keheranan mendengarnya.
Di ulangkannya lagi pertanyaan si wanita itu. ''How far is it from here to station?''
''o0ooh...'' sorak mereka bertiga bersamaan sambil manggut manggut.
''Bilang dong dari tadi. Kira kira satu kilometer. Kamu ikuti jalan ini, lalu kamu belok kanan dan nanti kamu akan melihat bangunan besar, nah itulah stasiunya.'' sahut Delima.
Wanita itu malah bertambah bingung. Matanya terbuka lebar tampak keheranan. ''In english, please. I come from Japan.''
''O0oh... Ngomong dong dari tadi.'' lagi lagi mereka bersorak bersamaan.
''You from Japan? Sugoi! Sugoi!'' jahil Delima.
''Yes, sugoi is dahsyat in bahasa.'' sahut wanita itu.
Delima kagum. ''You can speak bahasa too? Cool!''
''heh Delima! Dia nanya jalan tuh, kamu malah main mainin dia.'' kata Beby.
''Hehe, kapan lagi bisa bercakap dengan orang luar. Sekarang giliran kamu sana yang jelasin sama dia.''
Beby berkata. ''Certainly, you follow this way and then you turn to the right and you will see a big building. That is the station.''
''Oh, thank you very much. Arigato gozaimasu. Anata wa totemo shinsetsu desu.''
''You are welcome. Do-itashimashie.'' sahut Beby.
''Mata ai masho.'' seru wanita itu sambil mendadahkan tangannya.
''Itte irashai!'' teriak Beby.
Delima yang ada disebelahnya merasa kagum dengan Beby. ''Hebat kamu, beb. Kamu bisa bahasa Jepang juga?''
''Hanya sedikit, kok.''
''Ah, aku juga bisa kalau cuma gitu doang.'' sinis Cindy.
''Kalau kamu bisa kenapa gak kamu jawab tadi?'' balas Beby.
''Aku lagi malas aja.''
''Masa sih? Yang bener?''
''Iya. Orang aku lagi males ngomong, kok.''
''Ah, sudah jelas bahwa kamu masih dibawah aku.''
Cindy kesal. ''Kata siapa? Enak saja! Jadi kamu membanding bandingkan aku? Apa kamu mau perang bahasa denganku?''
''Ayo, siapa takut!''
Delima yang hanya menjadi penonton perdebatan itu merasa kesal. Lagi lagi mereka mulai bertengkar dengan kepintarannya itu.
''Hei sudah sudah! Baru aja tadi kita membicarakan tentang persahabatan, secepat itukah kalian melupakannya?''
''Itu beda lagi urusannya!'' teriak bareng cindy serta Beby pada Delima.
''Kenapa kalian selalu kompak sekali!'' balas Delima berteriak.
Waktu audisi hanya tinggal empat hari saja. Rasa gelisah terus menghantui Jeje. Dengan sedikit gemetar ia memberanikan dirinya untuk menemui kedua orang tuanya yang lagi bersantai di ruang tamu. Suasana yang tepat untuknya berbincang. Dipegangnya sebuah selembaran brosur di tangannya. Jeje menatapi Ayahnya itu. Hatinya sungguh tidak tenang, ia masih belum berani mengatakannya. Dengan sedikit paksaan, ia menyodorkan brosur yang di pegangnya itu pada Ayahnya. Segera itu pula Ayahnya membaca isi dari selembaran itu.
Lima menit lamanya Ayahnya itu merenungkannya. Sedangkan istrinya yang berada disebelahnya merasa penasaran dengan isi brosur itu. Kemudian dibacanya juga brosur itu. Jeje masih berdiri tegak menunggu jawaban dari orang tuanya. Dilihatnya wajah Ayahnya yang panas itu, buru buru Jeje membuang wajahnya.
''Apa alasannya? Jelaskan sama Ayah.''
Jeje tertegun sejenak. lalu Wajahnya menjadi sangat serius. Jeje berniat mengatakan semua yang ada di hatinya. Ia akan berusaha membuat Ayahnya paham tentang dirinya. Jeje menarik nafas, kemudian ia mulai berkata. ''Itu impianku! Sejak kecil aku sangat menyukai bidang ini. Ayah pernah mengatakan bahwa aku berbakat akan hal itu. Apa Ayah lupa?''
Ayahnya terdiam. Memang benar sejak saat itu Ayahnya pernah mengatakannya. Tapi bukan ini yang dirinya maksud. Mengikuti audisi itu hanya akan mengganggu jadwalnya, pikirnya.
''Ayah, apa aku boleh ikut?'' tanyanya sekali lagi.
''Kenapa kamu ingin sekali mengikutinya?'' balik Ayah bertanya menyelidik.
''Aku...aku ingin sekali melakukannya. Aku ingin menjadi dancer yang dikagumi banyak orang. Aku akan memperlihatkannya pada mereka. Ini merupakan impian yang ingin aku raih, Ayah. Bolehkah aku melakukannya? Kali ini saja.''
''Bagaimana kalau kamu gagal? Apakah kamu akan depresi? Mengurung dikamar? Gak mau makan? Apa itu yang nanti akan kamu lakukan?''
''Gak! Aku gak akan kayak gitu, Yah.'' Jeje memperjelas.
''Yasudah!'' seru Ayahnya itu tiba tiba.
Jeje tercengang, apa maksud perkataan Ayahnya itu? Apa dia mau mengabulkannya? ''Ya?''
''Temuilah Shania. Kamu Ayah izinkan.''
Jeje terperanjat senang. ''Makasih, Ayah.''
''Bersikap baiklah pada Shania. Dialah yang sudah membujuk Ayah untuk mu ikut serta dalam Audisi itu.''
''Ya, Pasti!''
Didalam hati yang paling dalam, Jeje sungguh tidak menyangka bahwa Shania telah membujuk Ayahnya itu. Ia begitu gembira berjalan kembali ke kamarnya, ia pun tidak lupa untuk segera mengucapkan terima kasih pada Shania lewat telepon.
''Tumben, sikap kamu berbeda.'' sindir Ibunya.
''Anak kita sudah dewasa, Bu. Sudah saatnya untuk kita memberinya kebebasan. Sejak kecil hingga sekarang dia tumbuh dengan baik. Apa salahnya kita membiarkan dia untuk meraih mimpinya dengan jalannya sendiri. Kita juga tentu harus mendukungnya.'' kata Ayah.
***
Disaat orang orang tertidur lelap pada malam hari, Ayu justru terbangun. Walau matanya itu sulit sekali dibuka lebar lebar karena ngantuk, Ayu tetap berusaha. Ia segera berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar rasa ngantuknya hilang. Setelah itu, Ia mengendap ngendap berjalan ke luar kamar apartemennya. Ia tidak ingin kalau Ibunya tahu kalau ia keluar. Ayu juga tidak lupa untuk membawa perlengkapan yang ia butuhkan ke didalam tasnya.
Disekitar lapangan basket tidak ada siapapun, sepi dan tenang. Ruangannya tidak terlalu terang, hanya beberapa lampu saja yang menyala. Kalaupun ada orang yang melihatnya, tidak akan terlihat jelas wajahnya. Ayu mengambil sepatu yang biasa ia pakai untuk berolah raga. Dikencangkannya tali sepatunya, takut takut jika kejadian sebelumnya terulang, dimana ia terjatuh karena menginjak tali yang terlepas itu. Diikatkannya rambutnya yang terurai itu, agar pandangannya tidak mengganggunya.
Ayu melepaskan jacket yang ia kenakan, tubuhnya hanya berlapiskan kaos tipis saja. Walau udara di malam hari sangat dingin, itu tidak membuat Ayu terganggu. Setelah semuanya siap, Ayu mengeluarkan PC tablet dari dalam tasnya. Biasa PC tablet itu ia gunakan untuk memutarkan Video. Diletakkannya tablet itu tepat dihadapannya yang hanya berjarak satu meter saja.
Setelah semuanya siap, Ayu segera menyetel Video yang ada di PC tersebut. Bagaimana dengan suara yang ditimbulkan dari PC tablet tersebut? Bukankah akan mengganggu jika sampai terdengar orang? Maka jawabanya TIDAK! Ayu sudah memikirkan itu sejak awal, ia memakai earphone bluetooth di telinganya.
Beban pikirannya semakin bertambah, sebab waktunya sudah tidak lama lagi. Dia harus memaksakan dirinya agar bisa memuaskan hasilnya.
''Aku harus melakukannya sebisa mungkin. Aku sudah gak tahan lagi hidup kesepian kayak gini. Aku ingin punya banyak teman, di puji dan dikagumi. Rencana ini gak boleh ketahuan oleh Ibu. Maafkan aku, Bu.''
Sesuatu dari dalam irama Video yang Ayu putar itu membuat Ayu bergoyang. Ia terus mengikuti gerakan gerakan dancer yang ada di Video tersebut. Ia mencobanya berulang ulang sampai gerakannya sama percis. Ada nafas kemudaan serta kelincahan yang terpancar dari diri Ayu.
Dari balik pagar yang terbuat dari kawat itu Sendy mengamati Ayu. Jaraknya cukup jauh, kira kira dua puluh meter. Tepat Sendy berdiri memang tidak ada cahaya yang menerangi, membuat Keberadaan Sendy tidak diketahui. Tepat di tangan kanannya ia menggenggam sebuah smart phone dengan berbagai software yang cukup canggih. Software itu membantu sangat Sendy untuk bisa melacak seseorang. Tentu di jaman modern ini teknologi sudah semakin menggila saja. Dilayar kaca smart phone ada sebuah lampu yang berkedap kedip dan berbunyi 'bib bib bib' yang menandakan keberadaan Ayu yang telah berubah. Cara kerja software itu cukup mudah, hanya tinggal mencantumkan nomer ponsel si terkait saja, dengan begitu akan terlacak melalui jaringan GSM. Sebelumya, Sendy mendapatkan nomer Ayu dari salah seorang teman satu kelasnya.
Sudah empat hari Ayu melakukan latihan di malam hari secara diam diam, tentu ekspresi Sendy tidak terlalu menunjukkan wajah yang penuh tanya. Sendy sudah tahu maksud dari Ayu tersebut.
''Hebat! Begitu kesepiannya kah dia sampai sampai rela berbuat sejauh itu?
Membuat tidurku terganggu saja. Aku kira ada apa, tau tau hanya ini saja yang dia lakukan.'' kata Sendy dengan wajah yang sedikit kecewanya itu.
Tiba tiba saja terdengar suara benturan yang cukup kuat. Tepat didepan mata kepala Sendy, Ayu terjatuh. Ia terpeleset dan menyebabkan tangan serta dengkulnya lecet. Sendy mendengar suara tangisan Ayu yang tersedu sedu, entah karena Ayu menangis karena kesakitan atau mungkin karena ia kesal kenapa disaat seperti ini ia sampai terluka dan akhirnya memperhambat latihannya saja. Didalam hati Sendy memang ia merasa tidak tega dan ingin menolongnya, tapi jika sampai itu terjadi, maka Ayu akan merasa curiga padanya. Terpaksa, Sendy hanya bisa terus mengawasinya dari kejauhan.
BERSAMBUNG...
Follow juga @JKT48fanfiction untuk membaca cerita seru lainnya!
Dua part terakhir season 1
''Siapa nama kamu?'' Tanya Sonya.
Wajahnya begitu segar dan simetris. Kecantikannya merupakan perpaduan antara tulang pipi yang tinggi, hidungnya mancung, matanya lebar seperti anak kecil yang tampak keheranan, bibirnya penuh dengan lekukan di tengah, terlebih jika ada seorang pria yang melihatnya, seperti ingin segera menerjangnya dengan nafsu, senyumannya sungguh indah, ada sedikit kempotan disebelah kanannya, ditambah dagu yang mungil serta sepasang telinga yang kecil. Rambut halus yang selebih bahu sengaja ia lepas, membuat para wanita iri jika melihatnya. Dipasangkannya sebuah bando berwarna Hijau di kepalanya, sungguh sempurna! Membuat semua pria ingin segera memilikinya.
''Namaku...Shiva Lestari.'' kata Shiva sambil menyodorkan tangannya pada Sonya. Mereka saling jabat tangan, kecuali Shania. Ia masih belum mau menerimanya. Tetapi sikap juteknya Shania tidak membuat hati Shiva terluka. Ia sudah terbiasa di perlakukan seperti itu sebelumnya. Shiva ingin sekali memberi kesan layaknya wanita ceria, polos dan penyabar didepan teman teman barunya dia. Sebelumya siang itu, Shiva menghabiskan semua hartanya hanya untuk mempercantik dirinya. Zaman sudah semakin modern, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama jika mereka yang ingin tampil 'Wah'. Shiva ingin sekali memulai hidup yang baru. Rasa keputusasaan berusaha ia buang sebisa mungkin. Dipandanginya wajah Shania, dan dilontarkannya senyuman manis tanpa henti. Langkah kakinya berjalan mendekati Shania. Mereka saling pandang memandang. Shiva melangkah lagi, kurang lebih 30cm jarak diantara mereka, jika Shiva melanjutkan langkahnya, mungkin mereka akan berbenturan. Shania mendelik keheranan. Sebenarnya apa mau dia?
Sonya serta Cleo yang berada disebelahnya pun wajahnya penuh tanya.
Tidak tanggung tanggung, Shiva melejit memeluk Shania. Ia mendekatkan bibirnya ke telingan Shania seraya berkata. ''Aku...Menyukaimu.'' Desisnya.
Shania tampak keheranan. Setelah sikapnya buruk terhadap Shiva, kenapa tingkahnya malah sebaliknya. Tidak ada rasa kebencian yang aku rasakan di hatinya. Kenapa wanita ini begitu aneh. Sungguh, ini kejadian yang pernah aku lihat dan bahkan aku rasakan sendiri. Hatinya bagaikan terbuat dari batu yang tidak bisa di pecahkan, setelah sikapku yang tidak mengenakkan padanya, kenapa ia malah memelukku seperti ini. Seharusnya ia kesal, marah atau mungkin jengkel. Itulah sikap yang lebih masuk akal, kata Shania dalam hati.
Shiva terus memeluk erat Shania sampai sampai Shania sulit bernafas. Shania bergidik, ia merasa tidak nyaman. Sesegera itu pula shania mendorong Shiva dengan kuat hingga Shiva terjatuh. Melihat itu, Cleo segera membangunkan Shiva.
''Shania! Kenapa kamu kasar sekali?'' bentak Cleo.
''Jangan dekat dekat denganku.'' kata Shania pada Shiva.
''Aku minta maaf. Aku harap kita bisa berteman dengan akrab.'' sahutnya.
***
Melalui kaca kamarnya yang setengah berdebu itu, Ayu terdiam melamun. Masih ada waktu kurang lebih dua puluh menit untuknya berangkat ke sekolah. Ayu mengamati anak anak remaja dibawah sana.
Mereka semua berangkat sekolah bersama sama. Bercanda, memberi pendapat satu sama lain, berceloteh bersama, bahkan terkadang tinggal besama. Aku ingin menjadi bagian dari mereka. Aku begitu kesepian. Adakah seseorang yang mampu membuatku tertawa?
Ayah, aku rindu kecupanmu di pagi hari. Aku rindu kehadiranmu disisi ku. Aku ingin bersenang senang lagi bersama Ayah, aku ingin diantarkan ke sekolah bersama Ayah, aku ingin makan diluar bersama Ayah, aku ingin pergi piknik bersama Ayah.
Sehari, sehari saja aku ingin itu semua. Aku ingin didikanmu jika aku berbuat salah, aku ingin teguranmu yang penuh perhatian padaku, aku sangat butuh bimbinganmu. Ayah, apa ayah bisa rasakan kehidupanku yang sekarang ini? Aku ingin Ayah menyarankan Ibu untuk selalu ada disisi ku, mengurusiku dan menemaniku saat aku menangis. Kenyataannya, Ibu hanya selalu memikirkan pekerjaannya. Jarang sekali ia melirikku sama sekali, Memberi nasehat atau teguran darinya agar aku merasa nyaman.
''Sayang, Ibu berangkat dulu. Jangan lupa sarapan dulu kalau mau berangkat sekolah. Ada nasi uduk di meja.'' seru Ibunya dari ruang tamu yang sudah berpakaian rapih.
Ayu tidak berbicara, ia hanya menggangguk tanpa menoleh. Waktu berangkat sekolah masih lama, Sedangkan ia hanya berdiam diri. Lama lama terasa bosan. Ayu pun mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, ia berniat mengirimkan pesan singkat pada Melody.
''Pagi, kakak. Lagi apa, kak? Apa kakak udah sarapan?''
Lima menit lamanya Ayu menunggu balasan, dan akhirnya Melody membalasnya.
''Ia nih lagi sarapan, udah gitu mau berangkat ke sekolah. Kamu sendiri bagaimana?''
Ayu kegirangan. Respon Melody sangat membuat Ayu senang.
''Aku belum sarapan, kak. Hati hati ya kak berangkat sekolahnya.hehe.''
''Waduh, kenapa belum sarapan? Nanti di kelas perut kamu bunyi bunyi lagi. Haha. Sarapan, ya. Biar belajarnya nyaman dan gampang di serap otak.''
Ayu senyam senyum, lagi lagi Melody merespon pesannya itu. Apalagi isi pesannya Melody mencemaskan dirinya. Tentu Ayu tambah gembira. Ayu ingin sekali cepat akrab dengan Melody, seperti layaknya dia dengan Dhike.
''Iya, makasih.'' balasnya.
Sesegera itu pula Ayu berjalan ke meja makan. Ia memakan sarapannya dengan lahap.
''Apa aku memberikan hadiah saja ya pada kak Melody? Mungkin kakak akan senang. Dan juga berfikir bahwa aku memikirkan dirinya.'' kata Ayu sambil mengunyah.
Umur muda seperti Ayu memang gampang sekali girang setelah mendapat pujian. Ditambah lagi rasa kesepiannya yang begitu besar, seseorang yang akan menemaninya tentu Ayu merasa terhibur, bahkan dari pesan lewat ponsel sekalipun.
Di sebuah taman yang tidak jauh dari tempat sekolah, Beby, cindy dan Delima sedang berkumpul bersama. Pelajaran baru saja berakhir, biasanya mereka bertiga selalu ngerumpi setelah pulang sekolah. Dalam benaknya Beby terus berfikir tentang audisi itu. Betapa senangnya, Beby akhirnya di izinkan oleh orang tuanya untuk ikut dalam audisi itu.
Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Tak bisa aku katakan, betapa senangnya aku.
Ya, memang begitu mengejutkan bagiku. Aku akan berusaha, Ibu. Ibu harus melihat dengan mata Ibu sendiri, bahwa aku yang akan meneruskan bakat Mu. Aku rasa, ini adalah awal untuk ku untuk bisa meraih mimpi. Meraih mimpi yang sebenarnya.
Aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan... ini juga merupakan awal yang begitu menyedihkan, dimana semua sahabat sahabat ku akan bersaing dan saling mendahului.
''Beb?'' panggil Cindy yang berada disebelahnya.
''Ya?''
''Kenapa diam aja?''
Beby memandang wajah Cindy serius. ''Cin, apa kita akan selalu menjadi sahabat selamanya? Bukan, maksud ku kita bertiga. Kita akan menjadi sahabat selamanya, kan? Aku sangat senang berteman dengan kalian. Walau kita sering bertengkar, saling mengejek atau mungkin saling iri. Tapi, aku tetap mengganggap kalian sahabat terbaikku. Aku gak pernah membenci kalian sedikit pun.''
''Kamu ini ngomong apa, sih? Aku masih gak ngerti. Kalau soal pertengkaran diantara sahabat itu kan bukan hal yang aneh. Semuanya pasti pernah merasakannya. Nanti juga ujung ujungnya baikan lagi. Itulah remaja!'' sahut Cindy.
Beby tertegun sebentar. Dalam keadaan seperti yang sekarang ini pasti tidak semudah itu alasan Cindy diterima. Tapi yang sekarang ini berbeda.
''Kamu gak mengerti juga dengan omongan ku, Cin?''
''Lalu, gimana caranya agar aku mengerti?''
''Seharusnya kamu bisa!''
''Mana bisa!''
''Mungkin saja. Kalau kamu memperdalam pikiranmu lagi tentang ucapanku tadi.''
''Caranya?''
Beby tampak emosional. ''Tentang audisi itu!''
''Memangnya kenapa? Oya, apa orang tua kamu udah ijinin kamu?'' tanya Delima.
Beby manggut manggut.
Wajah Delima menampakkan keingintahuan dan harapan yang amat sangat. ''Yang bener? Gimana caranya kamu membujuk orang tua kamu?''
Beby ingin menjelaskannya, namun ragu ragu. Ia menatap wajah Delima yang amat serius dan menanti omongannya itu. Begitu pula dengan Cindy, semuanya keheranan dan segera ingin tahu, membuat Beby terdesak.
Terpaksalah Beby menceritakan perihal orang tuanya. ''Dulu... orang tuaku pernah mengikuti kontes audisi juga sama kayak kita. Ibu serta teman temannya sangat bersaing kuat. Diantara Ibu dan ketiga orang temannya itu, ada dua orang yang gak lolos. Sejak saat itulah Ibu dan kedua temannya itu saling bermusuhan. Mereka kesal dan iri. Dulu Ibuku masih duduk dikelas tiga SMA. Pertengkaran semakin menjadi jadi saja diantara mereka. Ibu selalu dijauhkan oleh teman teman yang gak lolos dalam audisi itu. Mereka sirik! Kenapa manusia mempunyai hati yang begitu kotor. Ibuku gak salah apa apa, kenapa mereka menjauhinya. Ibu terus memikirkan itu setiap harinya. Ia rindu dengan sikap teman teman lamanya yang dulu. Yang begitu penuh perhatian, disaat susah teman selalu membantu, disaat senang teman akan selalu berbagi. Ibu rindu dengan semua itu.''
''Lalu?'' kata Delima semakin penasaran.
''Ibu keluar dari member grup musiknya itu. Ibu ingin kembali seperti dulu, bergurau bersama sama temannya, berceloteh, berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Ibu terpaksa melakukannya. Ikatan teman memang begitu kuat. Apapun profesi atau gelar seseorang, gak ada gunanya jika ia merasa kesepian. Jadi, apa kalian sudah mengerti maksud ku?''
Delima protes. ''Ending macam apa itu? Aku gak suka cerita akhirnya. Kenapa Ibu rela meninggalkan impiannya itu hanya demi seorang teman? Apa mencari teman baru itu susah?''
Beby menoleh ke arah Cindy. Ia ingin tahu seperti apa pendapat Cindy tentang cerita itu. Cindy tunduk terdiam. Sepertinya ia sedang menyimpulkannya dalam dalam. Dan akhirnya Cindy menegakkan kepalanya, wajahnya amat serius.
''Aku akan berjanji. Jika aku gak lolos dalam audisi itu, aku akan tetap menjadi sahabat kalian.''
Beby tersenyum senang mendengar perkataan Cindy. ''Aku juga. Gimana dengan kamu?'' tanyanya pada Delima.
''Iya aku juga. Sebagai teman yang baik Aku gak berhak melarang teman teman ku untuk meraih mimpinya, kan? Kita akan selalu menjadi sahabat.''
Mereka bertiga tersenyum gembira. Untung mereka semua bisa memahami situasinya.
Tidak lama suasana gembira berlangsung, ada seorang wanita yang menghampiri mereka. Wajah wanita itu tampak kebingungan. Ia menengok ke kanan dan kiri. Seperti sedang tersesat. Dan akhirnya wanita itu menghampiri mereka bertiga.
''Sumi masen, Koko kara eki made dono kurai no kyori ga arimasuka?'' tanya wanita itu. Sepertinya ia keceplosan, ia sadar, bahwa ini Indonesia bukan Jepang. Tentu Cindy, Beby serta Delima tampak keheranan mendengarnya.
Di ulangkannya lagi pertanyaan si wanita itu. ''How far is it from here to station?''
''o0ooh...'' sorak mereka bertiga bersamaan sambil manggut manggut.
''Bilang dong dari tadi. Kira kira satu kilometer. Kamu ikuti jalan ini, lalu kamu belok kanan dan nanti kamu akan melihat bangunan besar, nah itulah stasiunya.'' sahut Delima.
Wanita itu malah bertambah bingung. Matanya terbuka lebar tampak keheranan. ''In english, please. I come from Japan.''
''O0oh... Ngomong dong dari tadi.'' lagi lagi mereka bersorak bersamaan.
''You from Japan? Sugoi! Sugoi!'' jahil Delima.
''Yes, sugoi is dahsyat in bahasa.'' sahut wanita itu.
Delima kagum. ''You can speak bahasa too? Cool!''
''heh Delima! Dia nanya jalan tuh, kamu malah main mainin dia.'' kata Beby.
''Hehe, kapan lagi bisa bercakap dengan orang luar. Sekarang giliran kamu sana yang jelasin sama dia.''
Beby berkata. ''Certainly, you follow this way and then you turn to the right and you will see a big building. That is the station.''
''Oh, thank you very much. Arigato gozaimasu. Anata wa totemo shinsetsu desu.''
''You are welcome. Do-itashimashie.'' sahut Beby.
''Mata ai masho.'' seru wanita itu sambil mendadahkan tangannya.
''Itte irashai!'' teriak Beby.
Delima yang ada disebelahnya merasa kagum dengan Beby. ''Hebat kamu, beb. Kamu bisa bahasa Jepang juga?''
''Hanya sedikit, kok.''
''Ah, aku juga bisa kalau cuma gitu doang.'' sinis Cindy.
''Kalau kamu bisa kenapa gak kamu jawab tadi?'' balas Beby.
''Aku lagi malas aja.''
''Masa sih? Yang bener?''
''Iya. Orang aku lagi males ngomong, kok.''
''Ah, sudah jelas bahwa kamu masih dibawah aku.''
Cindy kesal. ''Kata siapa? Enak saja! Jadi kamu membanding bandingkan aku? Apa kamu mau perang bahasa denganku?''
''Ayo, siapa takut!''
Delima yang hanya menjadi penonton perdebatan itu merasa kesal. Lagi lagi mereka mulai bertengkar dengan kepintarannya itu.
''Hei sudah sudah! Baru aja tadi kita membicarakan tentang persahabatan, secepat itukah kalian melupakannya?''
''Itu beda lagi urusannya!'' teriak bareng cindy serta Beby pada Delima.
''Kenapa kalian selalu kompak sekali!'' balas Delima berteriak.
Waktu audisi hanya tinggal empat hari saja. Rasa gelisah terus menghantui Jeje. Dengan sedikit gemetar ia memberanikan dirinya untuk menemui kedua orang tuanya yang lagi bersantai di ruang tamu. Suasana yang tepat untuknya berbincang. Dipegangnya sebuah selembaran brosur di tangannya. Jeje menatapi Ayahnya itu. Hatinya sungguh tidak tenang, ia masih belum berani mengatakannya. Dengan sedikit paksaan, ia menyodorkan brosur yang di pegangnya itu pada Ayahnya. Segera itu pula Ayahnya membaca isi dari selembaran itu.
Lima menit lamanya Ayahnya itu merenungkannya. Sedangkan istrinya yang berada disebelahnya merasa penasaran dengan isi brosur itu. Kemudian dibacanya juga brosur itu. Jeje masih berdiri tegak menunggu jawaban dari orang tuanya. Dilihatnya wajah Ayahnya yang panas itu, buru buru Jeje membuang wajahnya.
''Apa alasannya? Jelaskan sama Ayah.''
Jeje tertegun sejenak. lalu Wajahnya menjadi sangat serius. Jeje berniat mengatakan semua yang ada di hatinya. Ia akan berusaha membuat Ayahnya paham tentang dirinya. Jeje menarik nafas, kemudian ia mulai berkata. ''Itu impianku! Sejak kecil aku sangat menyukai bidang ini. Ayah pernah mengatakan bahwa aku berbakat akan hal itu. Apa Ayah lupa?''
Ayahnya terdiam. Memang benar sejak saat itu Ayahnya pernah mengatakannya. Tapi bukan ini yang dirinya maksud. Mengikuti audisi itu hanya akan mengganggu jadwalnya, pikirnya.
''Ayah, apa aku boleh ikut?'' tanyanya sekali lagi.
''Kenapa kamu ingin sekali mengikutinya?'' balik Ayah bertanya menyelidik.
''Aku...aku ingin sekali melakukannya. Aku ingin menjadi dancer yang dikagumi banyak orang. Aku akan memperlihatkannya pada mereka. Ini merupakan impian yang ingin aku raih, Ayah. Bolehkah aku melakukannya? Kali ini saja.''
''Bagaimana kalau kamu gagal? Apakah kamu akan depresi? Mengurung dikamar? Gak mau makan? Apa itu yang nanti akan kamu lakukan?''
''Gak! Aku gak akan kayak gitu, Yah.'' Jeje memperjelas.
''Yasudah!'' seru Ayahnya itu tiba tiba.
Jeje tercengang, apa maksud perkataan Ayahnya itu? Apa dia mau mengabulkannya? ''Ya?''
''Temuilah Shania. Kamu Ayah izinkan.''
Jeje terperanjat senang. ''Makasih, Ayah.''
''Bersikap baiklah pada Shania. Dialah yang sudah membujuk Ayah untuk mu ikut serta dalam Audisi itu.''
''Ya, Pasti!''
Didalam hati yang paling dalam, Jeje sungguh tidak menyangka bahwa Shania telah membujuk Ayahnya itu. Ia begitu gembira berjalan kembali ke kamarnya, ia pun tidak lupa untuk segera mengucapkan terima kasih pada Shania lewat telepon.
''Tumben, sikap kamu berbeda.'' sindir Ibunya.
''Anak kita sudah dewasa, Bu. Sudah saatnya untuk kita memberinya kebebasan. Sejak kecil hingga sekarang dia tumbuh dengan baik. Apa salahnya kita membiarkan dia untuk meraih mimpinya dengan jalannya sendiri. Kita juga tentu harus mendukungnya.'' kata Ayah.
***
Disaat orang orang tertidur lelap pada malam hari, Ayu justru terbangun. Walau matanya itu sulit sekali dibuka lebar lebar karena ngantuk, Ayu tetap berusaha. Ia segera berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar rasa ngantuknya hilang. Setelah itu, Ia mengendap ngendap berjalan ke luar kamar apartemennya. Ia tidak ingin kalau Ibunya tahu kalau ia keluar. Ayu juga tidak lupa untuk membawa perlengkapan yang ia butuhkan ke didalam tasnya.
Disekitar lapangan basket tidak ada siapapun, sepi dan tenang. Ruangannya tidak terlalu terang, hanya beberapa lampu saja yang menyala. Kalaupun ada orang yang melihatnya, tidak akan terlihat jelas wajahnya. Ayu mengambil sepatu yang biasa ia pakai untuk berolah raga. Dikencangkannya tali sepatunya, takut takut jika kejadian sebelumnya terulang, dimana ia terjatuh karena menginjak tali yang terlepas itu. Diikatkannya rambutnya yang terurai itu, agar pandangannya tidak mengganggunya.
Ayu melepaskan jacket yang ia kenakan, tubuhnya hanya berlapiskan kaos tipis saja. Walau udara di malam hari sangat dingin, itu tidak membuat Ayu terganggu. Setelah semuanya siap, Ayu mengeluarkan PC tablet dari dalam tasnya. Biasa PC tablet itu ia gunakan untuk memutarkan Video. Diletakkannya tablet itu tepat dihadapannya yang hanya berjarak satu meter saja.
Setelah semuanya siap, Ayu segera menyetel Video yang ada di PC tersebut. Bagaimana dengan suara yang ditimbulkan dari PC tablet tersebut? Bukankah akan mengganggu jika sampai terdengar orang? Maka jawabanya TIDAK! Ayu sudah memikirkan itu sejak awal, ia memakai earphone bluetooth di telinganya.
Beban pikirannya semakin bertambah, sebab waktunya sudah tidak lama lagi. Dia harus memaksakan dirinya agar bisa memuaskan hasilnya.
''Aku harus melakukannya sebisa mungkin. Aku sudah gak tahan lagi hidup kesepian kayak gini. Aku ingin punya banyak teman, di puji dan dikagumi. Rencana ini gak boleh ketahuan oleh Ibu. Maafkan aku, Bu.''
Sesuatu dari dalam irama Video yang Ayu putar itu membuat Ayu bergoyang. Ia terus mengikuti gerakan gerakan dancer yang ada di Video tersebut. Ia mencobanya berulang ulang sampai gerakannya sama percis. Ada nafas kemudaan serta kelincahan yang terpancar dari diri Ayu.
Dari balik pagar yang terbuat dari kawat itu Sendy mengamati Ayu. Jaraknya cukup jauh, kira kira dua puluh meter. Tepat Sendy berdiri memang tidak ada cahaya yang menerangi, membuat Keberadaan Sendy tidak diketahui. Tepat di tangan kanannya ia menggenggam sebuah smart phone dengan berbagai software yang cukup canggih. Software itu membantu sangat Sendy untuk bisa melacak seseorang. Tentu di jaman modern ini teknologi sudah semakin menggila saja. Dilayar kaca smart phone ada sebuah lampu yang berkedap kedip dan berbunyi 'bib bib bib' yang menandakan keberadaan Ayu yang telah berubah. Cara kerja software itu cukup mudah, hanya tinggal mencantumkan nomer ponsel si terkait saja, dengan begitu akan terlacak melalui jaringan GSM. Sebelumya, Sendy mendapatkan nomer Ayu dari salah seorang teman satu kelasnya.
Sudah empat hari Ayu melakukan latihan di malam hari secara diam diam, tentu ekspresi Sendy tidak terlalu menunjukkan wajah yang penuh tanya. Sendy sudah tahu maksud dari Ayu tersebut.
''Hebat! Begitu kesepiannya kah dia sampai sampai rela berbuat sejauh itu?
Membuat tidurku terganggu saja. Aku kira ada apa, tau tau hanya ini saja yang dia lakukan.'' kata Sendy dengan wajah yang sedikit kecewanya itu.
Tiba tiba saja terdengar suara benturan yang cukup kuat. Tepat didepan mata kepala Sendy, Ayu terjatuh. Ia terpeleset dan menyebabkan tangan serta dengkulnya lecet. Sendy mendengar suara tangisan Ayu yang tersedu sedu, entah karena Ayu menangis karena kesakitan atau mungkin karena ia kesal kenapa disaat seperti ini ia sampai terluka dan akhirnya memperhambat latihannya saja. Didalam hati Sendy memang ia merasa tidak tega dan ingin menolongnya, tapi jika sampai itu terjadi, maka Ayu akan merasa curiga padanya. Terpaksa, Sendy hanya bisa terus mengawasinya dari kejauhan.
BERSAMBUNG...
Rabu, 09 Mei 2012
JKT48 Novel Fan Fiction Part 8 (Season 1)
Karya fan fiction ini adalah lanjutan dari part-part JKT48 Novel sebelumnya, yaitu part 1, part 2, part 3, part 4, part 5, part 6, dan part 7. JKT48 Novel fan fiction adalah karya teman kita, Chikafusa Chikanatsu, seorang fans JKT48 yang berdedikasi untuk JKT48 lewat karya sastranya, dimulai dari penerbitan karya-karyanya di fanpage JKT48 NOVEL, hingga bekerja sama dengan JKT48 Fanblog sekarang. Ikuti juga kisah-kisah menarik JKT48 Novel di @JKT48FanFiction.
''Hai, kalian gak jajan?'' tanyanya.
''Aku udah kenyang, Je. Kenapa? Kamu mau aku anter ke kantin?'' Ajak Sonya.
Jeje mengeluh dalam hati. ''Kenapa hanya Sonya yang merespon, padahal aku ingin sekali Jika Shania juga menjawab pertanyaanku tadi.''
''Apa kamu mau jajan, shan?'' tanya Jeje pada Shania.
''Kalian aja.'' sahutnya singkat.
Perubahan suasana hati Shania memang bisa begitu tiba tiba. Dalam sekejap ia bisa berubah dari luar biasa ramah menjadi merasa emosian. Ia sama sekali tak bisa mengontrol emosinya.
Jeje menjadi salah tingkah. Ia melirik ke arah Sonya, tetapi ia sama saja. Seharusnya Sonya bisa memahami suasana saat ini. ''Keadaan mengapung gini bukannya membantu ku.'' gerutu Jeje pada Sonya dalam hatinya. Apa mungkin terjadi sesuatu di tempat latihan? Apa mereka dikeluarkan karena gak dapat penggantinya? Kalaupun begitu, pasti mereka sangat marah padaku.
Jeje sangat penasaran betul apa yang sudah terjadi ditempat latihan mereka. Mau tanya, tapi gak enak. Sebab pasti dirinya lah yang sudah membuat semuanya jadi kacau. Kok Jadi begini kaku suasananya? Ayolah, siapa saja bukalah sebuah topik. Jika kalian ingin memarahiku, akan aku terima jika kalian nantinya akan merasa lega.
''Oya, Je. Ada salam dari Kak Cleo. Dia sangat mengkhawatirkan kamu.'' kata Sonya.
Akhirnya! Panda mau juga berbicara padaku.
''Oh, benarkah? Wah, ternyata kak Cleo mencemaskan aku, ya. Sampaikan saja makasih padanya.'' jawab riang Jeje.
Sonya mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia membuka kontak Cleo dan memperlihatkannya pada Jeje. ''ini! Catet lah nomer Kakak, katanya kalau kamu ada kesempatan segera hubungi Kakak.''
Jeje tersenyum. Ia langsung mencatat nomer Cleo di ponselnya. ''Udah aku catet. Aku pasti akan langsung menghubunginya setelah mendapat kepastian.''
Sonya manggut manggut.
Lagi lagi kerlingan mata Jeje tertuju pada Shania. Jeje sempat berfikir, kira kira topik pembicaraan yang seperti apa ya untuk memancing Shania berbicara. Dan akhirnya Jeje pun menemukan Ide.
''Shan, gimana kalau kapan kapan kita ke mall?''
Sungguh, omongan Jeje itu membuat Shania kaget. Shania memang saat itu mengacuhkan, tetapi disisi lain ia sangat merespon omongan Jeje itu dalam hatinya. Baru kali ini Jeje mengajak nya jalan, selama ia berteman dengan Jeje, tidak pernah!
''Bukanya kamu ingin banget jalan jalan denganku? Kita bisa lihat baju, peralatan make up atau pun membeli ice cream.'' tambah Jeje.
Kali ini, Jeje memang paling bisa menarik hati seseorang. Sebenarnya, memang sedikit ragu bagi Jeje mengajaknya jalan. Apalagi orang tuanya pasti gak suka. Tapi, mau bagaimana lagi, hanya itu lah caranya untuk bisa menyenangkan hati Shania. Paling paling jika sampai kedua orang tuanya tau, ia pasti cuma di ceramahi nya.
''Aku ikut, donk.'' pinta Sonya.
''Tentu! Kita jalan sama sama. Kita foto foto bareng. Makan bareng di sebuah kedai, membeli gulali. Pokoknya semuanya kita lakukan.'' bujuk Jeje.
Shania keheranan. Akhirnya Shania ingin sekali menanggapi omongan Jeje itu. ''Kamu serius?''
Jeje manggut manggut.
''Bagus! Udah lama aku ingin jalan jalan bersama kalian.'' kata Sonya dengan perasaan senang.
''Tapi, apa nanti kita jalannya pas sepulang sekolah?'' tanya Sonya.
''Tentu, kalau aku pulang ke rumah dulu, pasti orang tuaku gak akan ijinin aku buat keluyuran. Kamu kan tau sendiri Ayahku itu kaya apa.'' jawab Jeje seolah olah membuat Sonya untuk mengerti.
''Oh, okelah! Kamu mau kan, Shan?''
Shania manggut manggut. Tentu ia akan senang. Sudah bertahun tahun mereka berteman dan akhirnya bisa bersenang senang bersama, selama ini, mereka hanya sering bertemu di sekolah saja.
***
Dua kilometer, sudah sejauh itu mereka berempat berjalan menuju kediaman Stella. Ketiga gadis belia itu sudah terlihat kelelahan, kecuali Stella. Mungkin karena Stella sudah terbiasa.
''Masih jauh gak, Stell?'' keluh Ve.
''Bentar lagi, kok.''
''Apa gak ada kendaraan apa disini? Jauh banget, Stell. Mana panas lagi. Bisa item, deh.'' tambah Ve.
''Sebenarnya ada sih, angkot.''
''Lalu kenapa kita gak naik angkot aja?'' kata Melo.
Stella menjelaskan. ''Disini jarang sekali angkot lewat, sekalinya lewat kadang suka penuh. Perumahan ini baru saja diresmikan enam bulan yang lalu. Jadi masih sedikit angkutan umum disini. Lagipula penghuni disini rata rata berpangkat tinggi, mereka semua pada pakai kendaraan pribadi.''
''Apa kamu gak punya kendaraan, Stell?'' tanya Ve berlebihan. Memang, pertanyaan Ve itu agak sedikit menyinggung. Ia memang sering sekali ceplas ceplos kalau mengobrol. Entah karena ia terbiasa hidup mewah makanya ia kurang tahu dengan yang namanya Etiket. Melo dan Dhike hanya menunduk malu mendengar kalimat Ve tadi. Mereka harap, Stella akan terbiasa dengan Sikap Ve itu.
''Aku punya motor. Tapi, kalaupun aku pakai motor gak akan muat berempat. Apa kata para cowok kalau kita naik berempat nanti.'' Stella tertawa geli.
Ve ikut tertawa, ia membayangkan jika mereka berempat naik motor bersama. ''Haha, iya, iya.''
Melody melirik Dhike yang ada disebelahnya. Ia merasa cemas, Dhike baru saja sembuh, eh malah sudah di ajak jalan jauh dibawah terik matahari. Dhike menyadari lirikan Melo itu, pasti dirinya telah mengkhawatirkan aku, pikir Dhike.
''Aku gak apa apa kok, Mel.'' kata Dhike tiba tiba.
Melody tersenyum, ternyata Dhike mengetahui apa yang Melody pikirkan.
''Itu rumahku!'' seru Stella.
Ve, Melo dan Dhike terdiam sejenak, semua mata nya sedang mengamati sekeliling bangunan rumahnya. Bangunannya bisa dikatakan 'wah' luar biasa! Tapi, apa bangunan sebesar dan semewah ini hanya memiliki kendaraan sepeda motor saja? Serentak mereka bertiga berfikir dalam hati.
''Ayo masuk!''
Mereka berempat segera masuk kedalam rumah. Udaranya sungguh sejuk di teras rumahnya.
''Aku pulang!'' seru Stella.
''Ayo semuanya masuk. Kita ke kamar ku. Gak ada siapa siapa, kok. Kedua orang tua ku lagi kerja, hanya ada adik ku dirumah.''
''Kamu punya adik, Stell?'' tanya Ve.
Stella menggangguk.
''Siapa namanya? Boleh kita kenal?'' kata Melo.
Permintaan yang bagus. Melody memang tahu betul cara berbaur dengan sopan.
''Sonia! Sonia!'' panggil Stella.
Tidak lama kemudian adik nya keluar dari kamarnya yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu.
''Ya, kak.'' sahut Sonia.
Sonia kaget setelah melihat ada teman teman kakaknya itu. Wajah Sonia memerah, menjadi malu.
''Kenalin, ini teman teman kakak sekelas.''
''Hai, aku Melody.''
''Aku Dhike.''
''Kalau aku Ve. Orangnya baik hati, ramah dan juga penyayang.'' seloroh Ve.
Melo dan Dhike tertawa geli mendengarnya.
Sonia menjadi grogi. ''a-aku Sonia Natalia.''
''Dia masih SMP.'' tambah Stella.
''Oh.'' semuanya manggut manggut.
''Son! Tolong kamu bawakan minuman dan kue ke kamar ku, ya.'' pinta Stella.
Sonia menggangguk. Ia segera berjalan ke dapur.
''Ayo semuanya kita ke kamar ku. Ada dilantai atas.''
Sesegera itu pula mereka berjalan menuju kamar Stella.
Setelah tiba dikamar, semuanya tergeletak kecapean di lantai. Bagaimana tidak, mereka semua sudah berjalan cukup jauh untuk bisa sampai di rumah Stella. Ve yang merasa kegerahan tidak tanggung tanggung untuk membuka seragam sekolahnya dan hanya berlapiskan kaos saja ditubuhnya. Toh orang yang ada dirumah Stella hanyalah wanita seumuran, tidak ada pria, pikirnya. Melihat itu, Stella segera menghidupkan AC dikamarnya.
''Bukannya dari tadi di nyalain, Stell.'' keluh Ve.
''Hehe, maaf.''
Stella melirik Dhike, dari tadi ia hanya berdiam diri saja. ''Dhike, kenapa diam aja ? Oya, apa kamu juga mau ikut latihan bersama kami?''
''Em, gimana ya. Gimana tar aja deh. Aku lihat kalian dulu saja.''
''oh, oke. Hmm. sebelum kita mulai latihan aku mau memperkenalkan shuffle sama kalian.'' kata Stella.
Stella segera menyalakan audio dikamarnya dan memutarkan musik elektronik. Ia pun sudah siap dalam posisi gerakan yang akan ia tunjukan.
''Mungkin untuk pemula kayak kalian gerakan ini sungguh mudah. Gerakan ini dinamakan running man, yaitu gerakan berlari ditempat namun gak berpindah.''
Semuanya memperhatikan dengan serius. Melihat Stella yang asik bergoyang membuat Ve tidak sabar untuk melakukannya. Ia pun segera bangkit dan mengikuti gerakan yang Stella tunjukan itu.
''Apa kayak gini?'' tanyanya.
''Iya, betul. Gimana, mudah kan? Mungkin ini gerakan yang paling mudah untuk pemula kayak kalian.'' sahut Stella.
''Hei, Mel! Ayo cepet ikutin.'' kata Ve.
''Nanti deh. Aku masih cape. Aku istirahat dulu.''
Tidak lama kemudian Sonia datang dengan membawa minuman dan juga cemilan.
''Makasih, ya.'' kata Melo pada Sonia.
''Sini ikut gabung aja sama kami.'' tambah Melo.
Sonia hanya senyam senyum tersipu. Dalam hati Sonia memang ia ingin sekali bergabung dalam kerumunan itu. Namun ia masih grogi. Melody segera menarik tangan Sonia dan bersikap seakan akan sudah kenal dekat. Mungkin dengan begitu mereka akan cepat akrab, pikir Melody.
''Ayo semuanya diminum dulu.'' seru Stella.
''Sambil kalian bersantai, aku mau tunjukan gerakan lainnya. Namanya Jacking dance. Gerakan ini juga bisa dikatakan gampang sih, hanya tubuh yang bergerak maju mundur, kayak gerakan gelombang gitu.''
Semuanya manggut manggut.
''Nah, kalau kalian sudah menguasai gerakan dasar seperti running man atau mungkin jacking dance, maka gerakan selanjutnya dinamakan jumpstyle. Gerakan ini memang agak sedikit sulit. Intinya adalah melompat, mengayunkan kaki kiri dan kaki kanan kedepan, belakang, kesamping, atau gerakan kaki memutar.'' ucap Stella sambil memperagakannya.
Ve mendecak kagum. ''Hebat!''
''cukup dulu, Kita istirahat dulu aja. Nanti dilanjut lagi.'' kata Stella.
"oya, apa kamu bisa nge dance juga?" tanya Melo pada Sonia.
"Iya, sedikit." sahutnya.
"Sejak kecil, dia suka ngikut ngikut aku saat sedang latihan. makanya dia bisa sampai sekarang." serobot Stella.
"oh, begitu." Melo manggut manggut.
Mungkin bagi Melo atau yang lain gak terlalu masalah dengan kata 'ngikut'. namun didalam hati Sonia merasa jengkel dengan kata 'ngikut' yang diucapkan kakaknya itu. terlalu jujur !
Sore itu Ayu berjalan di taman apartemen, niatnya ingin membeli bahan untuk makan malam, namun langkahnya terhenti setelah melihat seekor kelinci tepat didepannya. Ayu pun segera mendekati kelinci tersebut. ''Lucunya! Kenapa kamu sendirian disini? Kira kira siapa yang punya kelinci ini, ya?'' kata Ayu sambil mengelus ngelus kelinci.
''Lucu banget sih kamu. Kalau aku di ijinin pelihara kelinci, pasti aku sudah membawa mu ke apartemen ku. Tapi...''
''Itu punya ku!'' jawab seorang wanita remaja tiba tiba dari belakang Ayu.
Ayu terperangah. ''Maaf, aku gak tau.''
''Gak apa apa. Kamu boleh pegang.''
''Bener aku boleh pegang?''
Wanita itu menggangguk. Ia menyodorkan sebuah wortel pada Ayu seraya berkata. ''Ini, tolong kamu kasih makan aja.''
''Ya.'' Ayu manggut manggut senang.
''Apa kamu tinggal di apartemen ini?'' tanya wanita itu.
''Iya. Apa kakak orang baru disini?'' balik Ayu bertanya.
''Bukan, aku hanya kebetulan lewat sini untuk jalan jalan bersama Ayu.''
Ayu terperanjat. Ia keheranan. ''Ayu?''
''Iya. Ayu. Nama kelinciku Ayu.''
Ayu sempat terdiam. Ia masih tercengang dengan nama si kelinci itu, kok namanya bisa sama dengan nama dirinya.
Wanita itu memandang wajah Ayu yang penuh keheranan itu. ''Kenapa? Apa ada yang salah?''
''Oh, gak apa apa kok.''
''Aku ingin sekali melepaskan Ayu, tetapi aku gak bisa. Ada ikatan diantara kami berdua.'' kata wanita itu. Ayu tambah merasa ganjil. Kok perkataan wanita itu seperti sedang menyindir ku, pikir Ayu.
''Kayaknya kakak sangat menyayangi Ayu (kelinci), ya?'' kata Ayu. Seolah olah ingin menguji apa yang ada di pikiran wanita itu.
''Tentu saja. Aku sangat menyayanginya, aku gak akan melepaskannya. Ikatan di antara kami akan semakin kuat. Kalaupun Ayu (Kelinci) ingin berusaha kabur, aku akan terus mengejarnya. Karena aku menyukai kelinci itu.''
Lagi lagi Ayu tercengang. Belakangan ini hidup Ayu tidak tenang. Setiap pagi ia terbangun merasa akan ada malapetaka menimpa. Mungkin ini semua hanya imajinasi ku saja, pikir Ayu.
Tiba tiba saja Dhike datang, ia baru saja pulang dari rumah Stella. Ia melihat Ayu dan memanggilnya.
''Ayu!''
''Kakak!''
Ditinggalkannya wanita itu begitu saja oleh Ayu. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan percakapannya dengan wanita itu. Ayu segera menghampiri Dhike.
''Kakak baru pulang? Kenapa sore sekali?''
''Aku baru dari rumah teman. Ngomong ngomong tadi kamu sama siapa?''
''Aku lupa tanya namanya. Tapi aku gak kenal, dia hanya sedang jalan jalan di taman ini.''
''Oh, gitu.''
''Oya, kak. Temani aku ke supermarket ya? Aku ingin belanja bahan bahan untuk makan malam nanti. Mau, ya?''
''Oke!''
Mereka berdua segera berjalan menuju supermarket seraya bercengkrama.
''Emangnya kamu mau masak apa?'' tanya Dhike.
''hmm, apa ya?''
''Tumis kangkung!'' seloroh Dhike tiba tiba.
''Ah, kakak. Kangkung lagi kangkung lagi.''
Mereka berdua tertawa.
''Gimana kalau Ayam goreng balado?'' kata Ayu.
''Boleh boleh.'' sahut Dhike.
Tepat dibelakang, wanita itu memperhatikan Ayu serta Dhike. Bidikan matanya sungguh tajam. Ini seperti sebuah permainan yang sangat menyenangkan, pikir wanita itu. Sedikit demi sedikit langkah wanita itu sudah mulai mendekati Ayu.
''Siapa wanita yang ada di sebelahnya? Temannya? Kakak kandung? Gak! Dia pasti teman satu apartemennya. Ayahnya hanya mempunyai satu anak saja. Dan dia adalah Ayu. Tapi, mereka kelihatan sangat dekat. Lebih dari sahabat. Sejak tadi pagi, ia gak bertemu dengan siapa siapa. Setelah pulang sekolah ia hanya mengurung dirinya di kamar. Dan setelah keluar, aku melihat ikatan yang begitu kuat di antara mereka. Gak salah lagi, itu pasti teman yang sangat dekat, saudara angkat? Kita lihat saja nanti. Mungkin ini karena ulah 'keputusasaan' dari anak itu. Memang gak mudah ditinggal seorang Ayah bertahun tahun lamanya. Apalagi ia gak tau nasib Ayahnya itu kayak apa sekarang. Sungguh, dunia manusia memang penuh kekejaman. Kita harus kejam untuk bisa terus bertahan di dunia yang kejam ini. Yang lemah akan selalu terinjak. TARGET LOCKED! '' Senyum Sendy.
***
''Aku pulang!'' seru Melody dari luar rumahnya. Tidak ada yang mendengar.
Didalam rumah Frieska sedang asik menonton TV. Ruangannya gelap, langit sudah mau berganti malam. Sangking asiknya lupa menghidupkan lampu. tanggung, film nya lagi seru serunya, pikir Frieska. Bahkan, kakaknya di luar sana tidak ia dengar. Saat itu pintu memang sengaja di kunci oleh Frieska, itu sudah merupakan perintah dari orang tuanya jika Frieska seorang diri dirumah.
''Frieska, Buka pintunya!'' ulang Melo teriak.
Beruntung, teriakan terakhir Melody itu mampu Frieska dengar. Ia langsung membukakan pintu.
''Kenapa baru pulang? Habis main, ya?'' tukas Frieska.
''kakak habis dari rumah teman. Kenapa ruangannya gelap banget?''
''Aku lagi asik nonton. Jadi lupa deh.''
Mengingat kata nonton, Frieska melejit menuju Tv. Ia kembali melanjutkan nonton film nya. Sedangkan Melody terlihat kelelahan, ia berbaring santai di sebelah adiknya itu.
''Mamah masak apa?'' Desis Melody.
''Lihat aja di meja, kak.'' sahut tak Acuh Frieska.
Melody mendecak. ''Kakak serius. Kalau Ibu gak masak, kakak mau masak sekarang. Bisa bisa nanti ngomel kalau Mamah pulang nanti. Kaki kakak pegel banget nih.''
''masak kok, kak.''
''Kamu udah cuci piring, belom?''
Frieska hanya menggangguk.
''Udah nyapu belum?'' tanyanya lagi.
Frieska menggangguk lagi.
''Udah bersihin kamar, belom?''
Lama lama Frieska jengkel. Sejak kapan kakaknya itu banyak omong. Lagi seru seru nya nonton malah di ganggu, pikirnya.
''Kok gak jawab?''
''Aduh, kakak! Bisa diem bentar gak? Lagi seru nih. Nanti aja kalau udah iklan baru tanya.'' protesnya.
Melody menghela nafas. ''Bantuin kakak dong. Kakak capek banget nih. Kakak gak mau kalau Mamah nanti ngomel ngomel kalau lihat isi rumah kayak kapal pecah.''
''Iya, nanti dibantu. Memangnya kakak habis ngapain, sih?'' tanya Frieska penasaran.
''Kakak habis latihan nge dance di rumah temen.''
Seketika itu pula adiknya terperangah. Mendengar kata dance membuat Frieska tercengang. Sejak kapan kakaknya itu tertarik dengan hal itu. Selama ini kan gak pernah! Pikir Frieska. Omongan kakaknya barusan mampu mengubah suasana. Frieska mendelik menatap kakaknya. ''Kakak serius?''
''Kenapa kamu sampai kaget begitu?''
Tiba tiba saja adiknya itu bersikap manja pada kakaknya, seperti sedang mengharapkan sesuatu darinya. ''Kasih tau dong, kak. Kakak latihan dimana? Aku juga pengen ikut atuh.''
Melody hanya terdiam tanpa komentar. Ia sudah mengira bahwa adiknya pengen ikut ikut dengannya. Kakak beradik memang sering seperti itu, kadang jika kita berada di posisi sebagai Kakak suka merasa jengkel. Dari mulai gaya hidup, menggeluti sesuatu atau mungkin sampai style fashion, terkadang suka ngikut ngikut.
''Tanya Mamah aja nanti kalau mau ikut.''
''Emangnya ada apa kak, sampai sampai kakak mau belajar Nge Dance?''
''Kakak mau ikut Audisi sister group AKB48 yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.''
''Memangnya kakak daftar dimana?''
''Di internet.''
''Syaratnya?''
''Wanita, umur tiga belas sampai delapan belas tahun, attractive, talented. Sulit kan dengan kata Talented?'' sindir Melody.
Frieska menggelengkan kepalanya. ''Enggak tuh. Apa kakak lupa? Dulu kan aku pernah ikut kontes Dance saat masih SMP.'' balik sindir adiknya. Sindiranya mampu membuat Melody iri. ''Wuu, curang!''
Frieska tertawa renyah. ''Asik, setelah di ijinkan sama Mamah, pokoknya aku harus daftar juga.''
''Yasudah terserah kamu. Kakak capek mau istirahat dulu. Jangan lupa bebenah ya habis nonton.''
''Ya.''
***
Pukul delapan malam di sebuah ruangan latihan gedung talent. Shania mendengus kesal. Dibantingnya kaleng minuman yang setengah kosong itu ke lantai. ''Sebenarnya dimana kak Cleo? Kenapa jam segini belum dateng juga?'' tanya Shania pada Sonya.
''Aku juga gak tau. Gawat nih kalau pelatih datang duluan. Sedangkan kita baru dua orang saja. Aku takut pelatih malah mengeluarkan kita dari group.'' sahut Sonya.
''Itu udah pasti. Bayangin aja gimana kesalnya pelatih mengurus kita yang susah di atur ini. Bukan! Bukan kita, tapi Jeje! Sebenarnya yang keras kepala itu kita atau Jeje sih?''
''Dua duanya.'' kata Sonya santai. Mendengar pendapat Sonya itu, Shania melirik tajam Sonya, kesal! Bukanya membela dirinya malah menyalahkan keduanya, pikir Shania.
''apa kamu tadi udah telepon kak Cleo?'' tanya Shania.
''Udah tadi. Tapi gak di angkat angkat, mungkin lagi menyetir.''
''Coba kamu telepon lagi. Mungkin dia gak denger, atau enggak kamu hubungi nomer yang satunya lagi, kalau perlu langsung video call aja dengan tablet mu itu. Kalau masih gak di angkat juga, kamu lacak aja dia via ponsel mu itu.'' ucap Shania gelisah.
Sonya menjadi jengkel. Wajah nya langsung terasa panas. Sikap Shania itu terlalu berlebihan. ''Kamu hubungi aja dia gih. Siapa sih yang mau itu semua terjadi. Aku juga gak mau, Shan. Udah tenang aja dulu, jangan panik kayak gitu. Nih pakai ponsel ku kalau kamu mau.'' kata Sonya sambil menyodorkan Ponselnya pada Shania.
Shania malah bertambah kesal, ia membalikkan tubuhnya. Selama ini Shania tidak pernah menggunakan yang namanya smart phone, apalagi menguasainya. Kalaupun bisa, Shania juga bakalan tidak tahu nama kontak Cleo di ponselnya. Ribet! Hanya memperlama saja, padahal waktunya sangat mepet. apa salahnya di hubungi lagi, gerutu Shania.
''Ya udah kalau gak mau.'' sindir Sonya.
Tidak lama kemudian pelatihnya datang menghampiri Sonya serta Shania. Mereka berdua terlihat sangat panik. Entah keputusan apa yang akan mereka terima dari pelatih setelah tahu keadaannya.
''Malam! Dimana yang lainya? Kalian hanya berdua?'' tanya pelatih itu.
Shania serta Sonya menunduk. Bibir mereka masih terkancing, belum ada yang berbicara. Takut takut kalau ada yang salah ngomong nantinya bencana yang mereka takuti akan menerjang. Mereka pun belum tahu pasti dengan keadaan Cleo yang tidak hadir itu.
''Kenapa gak ada yang jawab?'' ulang pelatih. ''Saya heran sama kalian, kenapa sulit sekali untuk taat saja sama saya. Lagi lagi buat saya kecewa. Ini udah yang keempat kalinya, lho. Selama saya mengajar belum ada tuh yang seperti kalian yang selalu melanggar. Apa susahnya sih mencari pengganti satu orang saja. Saya sudah memberi keringanan pada grup kalian. Mana ada pelatih disini yang mau mengajar grup yang isi muridnya kurang dari sepuluh orang. Sedangkan grup kalian sudah saya kasih keringanan. Apa mengumpulkan empat orang saja susah? Dimana ketua kalian?''
''Mungkin lagi di jalan.'' kata Shania, berusaha menenangkan suasana saat itu.
''Aku disini!'' teriak Cleo yang berada di sisi pintu ruangan. Disebelahnya, Cleo sudah membawa seseorang untuk menggantikan Jeje.
Shania serta Sonya mendelik memandang anggota barunya. Tidak ada dari mereka yang mengenalnya. Siapa dia?
''Maaf, aku terlambat.''
''Tak apa. Apa dia yang akan menggantikan Teman mu yang bernama Jeje itu?''
Cleo menggangguk.
''Bagus. Dengan begitu kita bisa mulai latihan. Saya tinggal dulu untuk ambil beberapa kaset. Kalian tunggu disini.'' kata pelatih.
Cleo serta orang baru itu segera menghampiri Sonya serta Shania. Anak baru itu terlihat begitu malu. Ia gugup serta gemeteran. Ditariknya tangan wanita itu oleh Cleo. ''Ayo sini! perkenalkan, dia adalah teman teman ku. Yang ini namanya Shania, dan yang ini Sonya.'' ujar Cleo.
Sonya hanya senyam senyum memandang anak baru itu, sedangkan Shania wajahnya cemberut. Sikapnya begitu jutek. Shania masih belum bisa menerima orang baru itu sebagai pengganti Jeje.
''Siapa nama kamu?'' tanya Sonya.
wanita itu gugup. ''A-aku...Namaku...''
Bersambung...
Di tempat duduknya Jeje merasa bosan. Saat itu sedang waktunya istirahat. Ia ingin berbaur dengan Shania serta Sonya, Tapi setelah kejadian kemarin Jeje jadi merasa tidak enak. Ditambah lagi Shania menjadi jutek padanya. Sejak masuk tadi, Shania tidak menyapanya, tidak seperti biasanya. Mungkin Shania masih ngambek dengan dirinya. Sesekali kerlingan Jeje mengarah ke Shania. Tapi shania tidak pernah meliriknya. Apakah ia sengaja? Semarah itukah dia padaku?
Jeje pun memberanikan dirinya untuk menghampiri Shania. Walaupun Shania akan bersikap pahit padanya, Jeje akan terima. Ia pun berjalan menuju Kursi Shania serta Sonya.''Hai, kalian gak jajan?'' tanyanya.
''Aku udah kenyang, Je. Kenapa? Kamu mau aku anter ke kantin?'' Ajak Sonya.
Jeje mengeluh dalam hati. ''Kenapa hanya Sonya yang merespon, padahal aku ingin sekali Jika Shania juga menjawab pertanyaanku tadi.''
''Apa kamu mau jajan, shan?'' tanya Jeje pada Shania.
''Kalian aja.'' sahutnya singkat.
Perubahan suasana hati Shania memang bisa begitu tiba tiba. Dalam sekejap ia bisa berubah dari luar biasa ramah menjadi merasa emosian. Ia sama sekali tak bisa mengontrol emosinya.
Jeje menjadi salah tingkah. Ia melirik ke arah Sonya, tetapi ia sama saja. Seharusnya Sonya bisa memahami suasana saat ini. ''Keadaan mengapung gini bukannya membantu ku.'' gerutu Jeje pada Sonya dalam hatinya. Apa mungkin terjadi sesuatu di tempat latihan? Apa mereka dikeluarkan karena gak dapat penggantinya? Kalaupun begitu, pasti mereka sangat marah padaku.
Jeje sangat penasaran betul apa yang sudah terjadi ditempat latihan mereka. Mau tanya, tapi gak enak. Sebab pasti dirinya lah yang sudah membuat semuanya jadi kacau. Kok Jadi begini kaku suasananya? Ayolah, siapa saja bukalah sebuah topik. Jika kalian ingin memarahiku, akan aku terima jika kalian nantinya akan merasa lega.
''Oya, Je. Ada salam dari Kak Cleo. Dia sangat mengkhawatirkan kamu.'' kata Sonya.
Akhirnya! Panda mau juga berbicara padaku.
''Oh, benarkah? Wah, ternyata kak Cleo mencemaskan aku, ya. Sampaikan saja makasih padanya.'' jawab riang Jeje.
Sonya mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia membuka kontak Cleo dan memperlihatkannya pada Jeje. ''ini! Catet lah nomer Kakak, katanya kalau kamu ada kesempatan segera hubungi Kakak.''
Jeje tersenyum. Ia langsung mencatat nomer Cleo di ponselnya. ''Udah aku catet. Aku pasti akan langsung menghubunginya setelah mendapat kepastian.''
Sonya manggut manggut.
Lagi lagi kerlingan mata Jeje tertuju pada Shania. Jeje sempat berfikir, kira kira topik pembicaraan yang seperti apa ya untuk memancing Shania berbicara. Dan akhirnya Jeje pun menemukan Ide.
''Shan, gimana kalau kapan kapan kita ke mall?''
Sungguh, omongan Jeje itu membuat Shania kaget. Shania memang saat itu mengacuhkan, tetapi disisi lain ia sangat merespon omongan Jeje itu dalam hatinya. Baru kali ini Jeje mengajak nya jalan, selama ia berteman dengan Jeje, tidak pernah!
''Bukanya kamu ingin banget jalan jalan denganku? Kita bisa lihat baju, peralatan make up atau pun membeli ice cream.'' tambah Jeje.
Kali ini, Jeje memang paling bisa menarik hati seseorang. Sebenarnya, memang sedikit ragu bagi Jeje mengajaknya jalan. Apalagi orang tuanya pasti gak suka. Tapi, mau bagaimana lagi, hanya itu lah caranya untuk bisa menyenangkan hati Shania. Paling paling jika sampai kedua orang tuanya tau, ia pasti cuma di ceramahi nya.
''Aku ikut, donk.'' pinta Sonya.
''Tentu! Kita jalan sama sama. Kita foto foto bareng. Makan bareng di sebuah kedai, membeli gulali. Pokoknya semuanya kita lakukan.'' bujuk Jeje.
Shania keheranan. Akhirnya Shania ingin sekali menanggapi omongan Jeje itu. ''Kamu serius?''
Jeje manggut manggut.
''Bagus! Udah lama aku ingin jalan jalan bersama kalian.'' kata Sonya dengan perasaan senang.
''Tapi, apa nanti kita jalannya pas sepulang sekolah?'' tanya Sonya.
''Tentu, kalau aku pulang ke rumah dulu, pasti orang tuaku gak akan ijinin aku buat keluyuran. Kamu kan tau sendiri Ayahku itu kaya apa.'' jawab Jeje seolah olah membuat Sonya untuk mengerti.
''Oh, okelah! Kamu mau kan, Shan?''
Shania manggut manggut. Tentu ia akan senang. Sudah bertahun tahun mereka berteman dan akhirnya bisa bersenang senang bersama, selama ini, mereka hanya sering bertemu di sekolah saja.
***
Dua kilometer, sudah sejauh itu mereka berempat berjalan menuju kediaman Stella. Ketiga gadis belia itu sudah terlihat kelelahan, kecuali Stella. Mungkin karena Stella sudah terbiasa.
''Masih jauh gak, Stell?'' keluh Ve.
''Bentar lagi, kok.''
''Apa gak ada kendaraan apa disini? Jauh banget, Stell. Mana panas lagi. Bisa item, deh.'' tambah Ve.
''Sebenarnya ada sih, angkot.''
''Lalu kenapa kita gak naik angkot aja?'' kata Melo.
Stella menjelaskan. ''Disini jarang sekali angkot lewat, sekalinya lewat kadang suka penuh. Perumahan ini baru saja diresmikan enam bulan yang lalu. Jadi masih sedikit angkutan umum disini. Lagipula penghuni disini rata rata berpangkat tinggi, mereka semua pada pakai kendaraan pribadi.''
''Apa kamu gak punya kendaraan, Stell?'' tanya Ve berlebihan. Memang, pertanyaan Ve itu agak sedikit menyinggung. Ia memang sering sekali ceplas ceplos kalau mengobrol. Entah karena ia terbiasa hidup mewah makanya ia kurang tahu dengan yang namanya Etiket. Melo dan Dhike hanya menunduk malu mendengar kalimat Ve tadi. Mereka harap, Stella akan terbiasa dengan Sikap Ve itu.
''Aku punya motor. Tapi, kalaupun aku pakai motor gak akan muat berempat. Apa kata para cowok kalau kita naik berempat nanti.'' Stella tertawa geli.
Ve ikut tertawa, ia membayangkan jika mereka berempat naik motor bersama. ''Haha, iya, iya.''
Melody melirik Dhike yang ada disebelahnya. Ia merasa cemas, Dhike baru saja sembuh, eh malah sudah di ajak jalan jauh dibawah terik matahari. Dhike menyadari lirikan Melo itu, pasti dirinya telah mengkhawatirkan aku, pikir Dhike.
''Aku gak apa apa kok, Mel.'' kata Dhike tiba tiba.
Melody tersenyum, ternyata Dhike mengetahui apa yang Melody pikirkan.
''Itu rumahku!'' seru Stella.
Ve, Melo dan Dhike terdiam sejenak, semua mata nya sedang mengamati sekeliling bangunan rumahnya. Bangunannya bisa dikatakan 'wah' luar biasa! Tapi, apa bangunan sebesar dan semewah ini hanya memiliki kendaraan sepeda motor saja? Serentak mereka bertiga berfikir dalam hati.
''Ayo masuk!''
Mereka berempat segera masuk kedalam rumah. Udaranya sungguh sejuk di teras rumahnya.
''Aku pulang!'' seru Stella.
''Ayo semuanya masuk. Kita ke kamar ku. Gak ada siapa siapa, kok. Kedua orang tua ku lagi kerja, hanya ada adik ku dirumah.''
''Kamu punya adik, Stell?'' tanya Ve.
Stella menggangguk.
''Siapa namanya? Boleh kita kenal?'' kata Melo.
Permintaan yang bagus. Melody memang tahu betul cara berbaur dengan sopan.
''Sonia! Sonia!'' panggil Stella.
Tidak lama kemudian adik nya keluar dari kamarnya yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu.
''Ya, kak.'' sahut Sonia.
Sonia kaget setelah melihat ada teman teman kakaknya itu. Wajah Sonia memerah, menjadi malu.
''Kenalin, ini teman teman kakak sekelas.''
''Hai, aku Melody.''
''Aku Dhike.''
''Kalau aku Ve. Orangnya baik hati, ramah dan juga penyayang.'' seloroh Ve.
Melo dan Dhike tertawa geli mendengarnya.
Sonia menjadi grogi. ''a-aku Sonia Natalia.''
''Dia masih SMP.'' tambah Stella.
''Oh.'' semuanya manggut manggut.
''Son! Tolong kamu bawakan minuman dan kue ke kamar ku, ya.'' pinta Stella.
Sonia menggangguk. Ia segera berjalan ke dapur.
''Ayo semuanya kita ke kamar ku. Ada dilantai atas.''
Sesegera itu pula mereka berjalan menuju kamar Stella.
Setelah tiba dikamar, semuanya tergeletak kecapean di lantai. Bagaimana tidak, mereka semua sudah berjalan cukup jauh untuk bisa sampai di rumah Stella. Ve yang merasa kegerahan tidak tanggung tanggung untuk membuka seragam sekolahnya dan hanya berlapiskan kaos saja ditubuhnya. Toh orang yang ada dirumah Stella hanyalah wanita seumuran, tidak ada pria, pikirnya. Melihat itu, Stella segera menghidupkan AC dikamarnya.
''Bukannya dari tadi di nyalain, Stell.'' keluh Ve.
''Hehe, maaf.''
Stella melirik Dhike, dari tadi ia hanya berdiam diri saja. ''Dhike, kenapa diam aja ? Oya, apa kamu juga mau ikut latihan bersama kami?''
''Em, gimana ya. Gimana tar aja deh. Aku lihat kalian dulu saja.''
''oh, oke. Hmm. sebelum kita mulai latihan aku mau memperkenalkan shuffle sama kalian.'' kata Stella.
Stella segera menyalakan audio dikamarnya dan memutarkan musik elektronik. Ia pun sudah siap dalam posisi gerakan yang akan ia tunjukan.
''Mungkin untuk pemula kayak kalian gerakan ini sungguh mudah. Gerakan ini dinamakan running man, yaitu gerakan berlari ditempat namun gak berpindah.''
Semuanya memperhatikan dengan serius. Melihat Stella yang asik bergoyang membuat Ve tidak sabar untuk melakukannya. Ia pun segera bangkit dan mengikuti gerakan yang Stella tunjukan itu.
''Apa kayak gini?'' tanyanya.
''Iya, betul. Gimana, mudah kan? Mungkin ini gerakan yang paling mudah untuk pemula kayak kalian.'' sahut Stella.
''Hei, Mel! Ayo cepet ikutin.'' kata Ve.
''Nanti deh. Aku masih cape. Aku istirahat dulu.''
Tidak lama kemudian Sonia datang dengan membawa minuman dan juga cemilan.
''Makasih, ya.'' kata Melo pada Sonia.
''Sini ikut gabung aja sama kami.'' tambah Melo.
Sonia hanya senyam senyum tersipu. Dalam hati Sonia memang ia ingin sekali bergabung dalam kerumunan itu. Namun ia masih grogi. Melody segera menarik tangan Sonia dan bersikap seakan akan sudah kenal dekat. Mungkin dengan begitu mereka akan cepat akrab, pikir Melody.
''Ayo semuanya diminum dulu.'' seru Stella.
''Sambil kalian bersantai, aku mau tunjukan gerakan lainnya. Namanya Jacking dance. Gerakan ini juga bisa dikatakan gampang sih, hanya tubuh yang bergerak maju mundur, kayak gerakan gelombang gitu.''
Semuanya manggut manggut.
''Nah, kalau kalian sudah menguasai gerakan dasar seperti running man atau mungkin jacking dance, maka gerakan selanjutnya dinamakan jumpstyle. Gerakan ini memang agak sedikit sulit. Intinya adalah melompat, mengayunkan kaki kiri dan kaki kanan kedepan, belakang, kesamping, atau gerakan kaki memutar.'' ucap Stella sambil memperagakannya.
Ve mendecak kagum. ''Hebat!''
''cukup dulu, Kita istirahat dulu aja. Nanti dilanjut lagi.'' kata Stella.
"oya, apa kamu bisa nge dance juga?" tanya Melo pada Sonia.
"Iya, sedikit." sahutnya.
"Sejak kecil, dia suka ngikut ngikut aku saat sedang latihan. makanya dia bisa sampai sekarang." serobot Stella.
"oh, begitu." Melo manggut manggut.
Mungkin bagi Melo atau yang lain gak terlalu masalah dengan kata 'ngikut'. namun didalam hati Sonia merasa jengkel dengan kata 'ngikut' yang diucapkan kakaknya itu. terlalu jujur !
Sore itu Ayu berjalan di taman apartemen, niatnya ingin membeli bahan untuk makan malam, namun langkahnya terhenti setelah melihat seekor kelinci tepat didepannya. Ayu pun segera mendekati kelinci tersebut. ''Lucunya! Kenapa kamu sendirian disini? Kira kira siapa yang punya kelinci ini, ya?'' kata Ayu sambil mengelus ngelus kelinci.
''Lucu banget sih kamu. Kalau aku di ijinin pelihara kelinci, pasti aku sudah membawa mu ke apartemen ku. Tapi...''
''Itu punya ku!'' jawab seorang wanita remaja tiba tiba dari belakang Ayu.
Ayu terperangah. ''Maaf, aku gak tau.''
''Gak apa apa. Kamu boleh pegang.''
''Bener aku boleh pegang?''
Wanita itu menggangguk. Ia menyodorkan sebuah wortel pada Ayu seraya berkata. ''Ini, tolong kamu kasih makan aja.''
''Ya.'' Ayu manggut manggut senang.
''Apa kamu tinggal di apartemen ini?'' tanya wanita itu.
''Iya. Apa kakak orang baru disini?'' balik Ayu bertanya.
''Bukan, aku hanya kebetulan lewat sini untuk jalan jalan bersama Ayu.''
Ayu terperanjat. Ia keheranan. ''Ayu?''
''Iya. Ayu. Nama kelinciku Ayu.''
Ayu sempat terdiam. Ia masih tercengang dengan nama si kelinci itu, kok namanya bisa sama dengan nama dirinya.
Wanita itu memandang wajah Ayu yang penuh keheranan itu. ''Kenapa? Apa ada yang salah?''
''Oh, gak apa apa kok.''
''Aku ingin sekali melepaskan Ayu, tetapi aku gak bisa. Ada ikatan diantara kami berdua.'' kata wanita itu. Ayu tambah merasa ganjil. Kok perkataan wanita itu seperti sedang menyindir ku, pikir Ayu.
''Kayaknya kakak sangat menyayangi Ayu (kelinci), ya?'' kata Ayu. Seolah olah ingin menguji apa yang ada di pikiran wanita itu.
''Tentu saja. Aku sangat menyayanginya, aku gak akan melepaskannya. Ikatan di antara kami akan semakin kuat. Kalaupun Ayu (Kelinci) ingin berusaha kabur, aku akan terus mengejarnya. Karena aku menyukai kelinci itu.''
Lagi lagi Ayu tercengang. Belakangan ini hidup Ayu tidak tenang. Setiap pagi ia terbangun merasa akan ada malapetaka menimpa. Mungkin ini semua hanya imajinasi ku saja, pikir Ayu.
Tiba tiba saja Dhike datang, ia baru saja pulang dari rumah Stella. Ia melihat Ayu dan memanggilnya.
''Ayu!''
''Kakak!''
Ditinggalkannya wanita itu begitu saja oleh Ayu. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan percakapannya dengan wanita itu. Ayu segera menghampiri Dhike.
''Kakak baru pulang? Kenapa sore sekali?''
''Aku baru dari rumah teman. Ngomong ngomong tadi kamu sama siapa?''
''Aku lupa tanya namanya. Tapi aku gak kenal, dia hanya sedang jalan jalan di taman ini.''
''Oh, gitu.''
''Oya, kak. Temani aku ke supermarket ya? Aku ingin belanja bahan bahan untuk makan malam nanti. Mau, ya?''
''Oke!''
Mereka berdua segera berjalan menuju supermarket seraya bercengkrama.
''Emangnya kamu mau masak apa?'' tanya Dhike.
''hmm, apa ya?''
''Tumis kangkung!'' seloroh Dhike tiba tiba.
''Ah, kakak. Kangkung lagi kangkung lagi.''
Mereka berdua tertawa.
''Gimana kalau Ayam goreng balado?'' kata Ayu.
''Boleh boleh.'' sahut Dhike.
Tepat dibelakang, wanita itu memperhatikan Ayu serta Dhike. Bidikan matanya sungguh tajam. Ini seperti sebuah permainan yang sangat menyenangkan, pikir wanita itu. Sedikit demi sedikit langkah wanita itu sudah mulai mendekati Ayu.
''Siapa wanita yang ada di sebelahnya? Temannya? Kakak kandung? Gak! Dia pasti teman satu apartemennya. Ayahnya hanya mempunyai satu anak saja. Dan dia adalah Ayu. Tapi, mereka kelihatan sangat dekat. Lebih dari sahabat. Sejak tadi pagi, ia gak bertemu dengan siapa siapa. Setelah pulang sekolah ia hanya mengurung dirinya di kamar. Dan setelah keluar, aku melihat ikatan yang begitu kuat di antara mereka. Gak salah lagi, itu pasti teman yang sangat dekat, saudara angkat? Kita lihat saja nanti. Mungkin ini karena ulah 'keputusasaan' dari anak itu. Memang gak mudah ditinggal seorang Ayah bertahun tahun lamanya. Apalagi ia gak tau nasib Ayahnya itu kayak apa sekarang. Sungguh, dunia manusia memang penuh kekejaman. Kita harus kejam untuk bisa terus bertahan di dunia yang kejam ini. Yang lemah akan selalu terinjak. TARGET LOCKED! '' Senyum Sendy.
***
''Aku pulang!'' seru Melody dari luar rumahnya. Tidak ada yang mendengar.
Didalam rumah Frieska sedang asik menonton TV. Ruangannya gelap, langit sudah mau berganti malam. Sangking asiknya lupa menghidupkan lampu. tanggung, film nya lagi seru serunya, pikir Frieska. Bahkan, kakaknya di luar sana tidak ia dengar. Saat itu pintu memang sengaja di kunci oleh Frieska, itu sudah merupakan perintah dari orang tuanya jika Frieska seorang diri dirumah.
''Frieska, Buka pintunya!'' ulang Melo teriak.
Beruntung, teriakan terakhir Melody itu mampu Frieska dengar. Ia langsung membukakan pintu.
''Kenapa baru pulang? Habis main, ya?'' tukas Frieska.
''kakak habis dari rumah teman. Kenapa ruangannya gelap banget?''
''Aku lagi asik nonton. Jadi lupa deh.''
Mengingat kata nonton, Frieska melejit menuju Tv. Ia kembali melanjutkan nonton film nya. Sedangkan Melody terlihat kelelahan, ia berbaring santai di sebelah adiknya itu.
''Mamah masak apa?'' Desis Melody.
''Lihat aja di meja, kak.'' sahut tak Acuh Frieska.
Melody mendecak. ''Kakak serius. Kalau Ibu gak masak, kakak mau masak sekarang. Bisa bisa nanti ngomel kalau Mamah pulang nanti. Kaki kakak pegel banget nih.''
''masak kok, kak.''
''Kamu udah cuci piring, belom?''
Frieska hanya menggangguk.
''Udah nyapu belum?'' tanyanya lagi.
Frieska menggangguk lagi.
''Udah bersihin kamar, belom?''
Lama lama Frieska jengkel. Sejak kapan kakaknya itu banyak omong. Lagi seru seru nya nonton malah di ganggu, pikirnya.
''Kok gak jawab?''
''Aduh, kakak! Bisa diem bentar gak? Lagi seru nih. Nanti aja kalau udah iklan baru tanya.'' protesnya.
Melody menghela nafas. ''Bantuin kakak dong. Kakak capek banget nih. Kakak gak mau kalau Mamah nanti ngomel ngomel kalau lihat isi rumah kayak kapal pecah.''
''Iya, nanti dibantu. Memangnya kakak habis ngapain, sih?'' tanya Frieska penasaran.
''Kakak habis latihan nge dance di rumah temen.''
Seketika itu pula adiknya terperangah. Mendengar kata dance membuat Frieska tercengang. Sejak kapan kakaknya itu tertarik dengan hal itu. Selama ini kan gak pernah! Pikir Frieska. Omongan kakaknya barusan mampu mengubah suasana. Frieska mendelik menatap kakaknya. ''Kakak serius?''
''Kenapa kamu sampai kaget begitu?''
Tiba tiba saja adiknya itu bersikap manja pada kakaknya, seperti sedang mengharapkan sesuatu darinya. ''Kasih tau dong, kak. Kakak latihan dimana? Aku juga pengen ikut atuh.''
Melody hanya terdiam tanpa komentar. Ia sudah mengira bahwa adiknya pengen ikut ikut dengannya. Kakak beradik memang sering seperti itu, kadang jika kita berada di posisi sebagai Kakak suka merasa jengkel. Dari mulai gaya hidup, menggeluti sesuatu atau mungkin sampai style fashion, terkadang suka ngikut ngikut.
''Tanya Mamah aja nanti kalau mau ikut.''
''Emangnya ada apa kak, sampai sampai kakak mau belajar Nge Dance?''
''Kakak mau ikut Audisi sister group AKB48 yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.''
''Memangnya kakak daftar dimana?''
''Di internet.''
''Syaratnya?''
''Wanita, umur tiga belas sampai delapan belas tahun, attractive, talented. Sulit kan dengan kata Talented?'' sindir Melody.
Frieska menggelengkan kepalanya. ''Enggak tuh. Apa kakak lupa? Dulu kan aku pernah ikut kontes Dance saat masih SMP.'' balik sindir adiknya. Sindiranya mampu membuat Melody iri. ''Wuu, curang!''
Frieska tertawa renyah. ''Asik, setelah di ijinkan sama Mamah, pokoknya aku harus daftar juga.''
''Yasudah terserah kamu. Kakak capek mau istirahat dulu. Jangan lupa bebenah ya habis nonton.''
''Ya.''
***
Pukul delapan malam di sebuah ruangan latihan gedung talent. Shania mendengus kesal. Dibantingnya kaleng minuman yang setengah kosong itu ke lantai. ''Sebenarnya dimana kak Cleo? Kenapa jam segini belum dateng juga?'' tanya Shania pada Sonya.
''Aku juga gak tau. Gawat nih kalau pelatih datang duluan. Sedangkan kita baru dua orang saja. Aku takut pelatih malah mengeluarkan kita dari group.'' sahut Sonya.
''Itu udah pasti. Bayangin aja gimana kesalnya pelatih mengurus kita yang susah di atur ini. Bukan! Bukan kita, tapi Jeje! Sebenarnya yang keras kepala itu kita atau Jeje sih?''
''Dua duanya.'' kata Sonya santai. Mendengar pendapat Sonya itu, Shania melirik tajam Sonya, kesal! Bukanya membela dirinya malah menyalahkan keduanya, pikir Shania.
''apa kamu tadi udah telepon kak Cleo?'' tanya Shania.
''Udah tadi. Tapi gak di angkat angkat, mungkin lagi menyetir.''
''Coba kamu telepon lagi. Mungkin dia gak denger, atau enggak kamu hubungi nomer yang satunya lagi, kalau perlu langsung video call aja dengan tablet mu itu. Kalau masih gak di angkat juga, kamu lacak aja dia via ponsel mu itu.'' ucap Shania gelisah.
Sonya menjadi jengkel. Wajah nya langsung terasa panas. Sikap Shania itu terlalu berlebihan. ''Kamu hubungi aja dia gih. Siapa sih yang mau itu semua terjadi. Aku juga gak mau, Shan. Udah tenang aja dulu, jangan panik kayak gitu. Nih pakai ponsel ku kalau kamu mau.'' kata Sonya sambil menyodorkan Ponselnya pada Shania.
Shania malah bertambah kesal, ia membalikkan tubuhnya. Selama ini Shania tidak pernah menggunakan yang namanya smart phone, apalagi menguasainya. Kalaupun bisa, Shania juga bakalan tidak tahu nama kontak Cleo di ponselnya. Ribet! Hanya memperlama saja, padahal waktunya sangat mepet. apa salahnya di hubungi lagi, gerutu Shania.
''Ya udah kalau gak mau.'' sindir Sonya.
Tidak lama kemudian pelatihnya datang menghampiri Sonya serta Shania. Mereka berdua terlihat sangat panik. Entah keputusan apa yang akan mereka terima dari pelatih setelah tahu keadaannya.
''Malam! Dimana yang lainya? Kalian hanya berdua?'' tanya pelatih itu.
Shania serta Sonya menunduk. Bibir mereka masih terkancing, belum ada yang berbicara. Takut takut kalau ada yang salah ngomong nantinya bencana yang mereka takuti akan menerjang. Mereka pun belum tahu pasti dengan keadaan Cleo yang tidak hadir itu.
''Kenapa gak ada yang jawab?'' ulang pelatih. ''Saya heran sama kalian, kenapa sulit sekali untuk taat saja sama saya. Lagi lagi buat saya kecewa. Ini udah yang keempat kalinya, lho. Selama saya mengajar belum ada tuh yang seperti kalian yang selalu melanggar. Apa susahnya sih mencari pengganti satu orang saja. Saya sudah memberi keringanan pada grup kalian. Mana ada pelatih disini yang mau mengajar grup yang isi muridnya kurang dari sepuluh orang. Sedangkan grup kalian sudah saya kasih keringanan. Apa mengumpulkan empat orang saja susah? Dimana ketua kalian?''
''Mungkin lagi di jalan.'' kata Shania, berusaha menenangkan suasana saat itu.
''Aku disini!'' teriak Cleo yang berada di sisi pintu ruangan. Disebelahnya, Cleo sudah membawa seseorang untuk menggantikan Jeje.
Shania serta Sonya mendelik memandang anggota barunya. Tidak ada dari mereka yang mengenalnya. Siapa dia?
''Maaf, aku terlambat.''
''Tak apa. Apa dia yang akan menggantikan Teman mu yang bernama Jeje itu?''
Cleo menggangguk.
''Bagus. Dengan begitu kita bisa mulai latihan. Saya tinggal dulu untuk ambil beberapa kaset. Kalian tunggu disini.'' kata pelatih.
Cleo serta orang baru itu segera menghampiri Sonya serta Shania. Anak baru itu terlihat begitu malu. Ia gugup serta gemeteran. Ditariknya tangan wanita itu oleh Cleo. ''Ayo sini! perkenalkan, dia adalah teman teman ku. Yang ini namanya Shania, dan yang ini Sonya.'' ujar Cleo.
Sonya hanya senyam senyum memandang anak baru itu, sedangkan Shania wajahnya cemberut. Sikapnya begitu jutek. Shania masih belum bisa menerima orang baru itu sebagai pengganti Jeje.
''Siapa nama kamu?'' tanya Sonya.
wanita itu gugup. ''A-aku...Namaku...''
Bersambung...
Langganan:
Postingan (Atom)
